Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pemkab Blitar Punya PR Besar Tekan Kasus Bayi Prematur, Ini Data Angka Kematian Ibu

Fajar Rahmad Ali Wardana • Senin, 8 September 2025 | 17:04 WIB

PR Pemkab Tekan Kasus Bayi Prematur Angka Kematian Ibu Nol di Kabupaten
PR Pemkab Tekan Kasus Bayi Prematur Angka Kematian Ibu Nol di Kabupaten

BLITAR – Kabupaten Blitar berhasil mencatat nol kasus kematian ibu hamil dan melahirkan hingga Agustus 2025.

Pencapaian ini menjadi catatan positif bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar, meski di lain sisi angka kematian bayi masih tinggi.

Situasi ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemkab untuk menekan kasus bayi yang lahir prematur.

Subkoordinator Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Kabupaten Blitar, Etti Suryani mengatakan, pencapaian nol kasus kematian ibu ini diharapkan bisa bertahan hingga akhir tahun. Karena tahun sebelumnya, fenomena ini masih terus ada.

“Sampai saat ini tidak ada kematian ibu. Mudah-mudahan bertahan sampai akhir tahun. Ini menjadi capaian positif dalam bidang kesehatan di daerah. Sebab, kondisi ibu hamil tentu memengaruhi saat proses kelahiran hingga anak yang dikandungnya,” ujarnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Penataran, beberapa waktu lalu.

Sebagai perbandingan, pada 2024 lalu tercatat 13 kasus kematian ibu, pada 2023 sebanyak 6 kasus, sementara pada 2022 ada 17 kasus.

Angka tertinggi terjadi pada 2021, ketika pandemi Covid-19, yakni mencapai 69 kasus. Sebagian besar penyebab kematian ibu berasal dari komplikasi kehamilan seperti preeklamsia.

Menurut Etti, penurunan angka kematian ibu ini merupakan hasil kerja kolektif lintas sektor.

Upaya penurunan angka kematian dilakukan melalui perbaikan tata kelola pelayanan kesehatan, peningkatan fasilitas dan sarana prasarana, penguatan kompetensi tenaga medis, edukasi kepada masyarakat, hingga sistem rujukan dan pembiayaan kesehatan ibu dan anak.

“Kematian ibu dan bayi itu termasuk indikator kinerja utama bagi daerah. Jadi, semua bergerak bersama, terutama dinkes sebagai koordinator. Namun, kami masih ada pekerjaan untuk menekan kematian bayi,” jelasnya.

Meski angka kematian ibu turun drastis, tantangan masih ada pada kasus kematian bayi karena banyaknya kasus bayi prematur.

Etti menyebut setiap tahun terdapat sekitar 400 bayi lahir dengan berat di bawah 2.500 gram. Faktor risiko yang memicu antara lain usia ibu hamil yang terlalu muda atau terlalu tua.

Hal ini merupakan dampak dari pernikahan dini sehingga membuat sang ibu atau anak lemah dalam kesehatan reproduksinya. Selain itu, ada penyakit penyerta pada ibu yang memengaruhi anak saat lahir.

Sementara itu, jumlah kelahiran di Kabupaten Blitar juga menunjukkan tren menurun. Terakhir, pada 2024 tercatat sekitar 10.761 kelahiran.

Dari jumlah tersebut, ratusan di antaranya bayi dengan berat badan lahir rendah.

“Bayi prematur ini yang masih menjadi PR Pemkab Blitar. Karena kondisinya rentan, butuh penanganan intensif. Target kami adalah menekan semaksimal mungkin angka kematian ibu dan bayi. Untuk ibu, tahun ini sudah cukup baik, tinggal fokus menurunkan kasus bayi prematur,” pungkasnya. (jar/c1/ynu) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#pr #kematian ibu #kasus #Pemkab Blitar #bayi prematur