BLITAR – Pascakerusuhan yang melibatkan ratusan remaja di depan Polres Blitar Kota beberapa waktu lalu, perhatian terhadap peran sekolah dan orang tua dalam mengawasi anak semakin menguat.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Blitar, Dindin Ali Nurdin, menegaskan bahwa pihaknya bersama instansi terkait akan lebih fokus pada langkah pencegahan dan edukasi, bukan pada opsi pengiriman anak ke barak militer.
Menurut Dindin, sekolah dan orang tua harus meningkatkan kewaspadaan agar kejadian serupa tidak terulang. Orang tua diminta lebih ketat dalam mengawasi anak-anaknya, terutama aktivitas di luar rumah.
“Kalau bisa batasi anak untuk keluar malam hari, berikan pemahaman tentang bahaya provokasi, bahkan kalau perlu cek ponsel mereka. Ini untuk memastikan apakah ada pesan-pesan provokatif yang bisa memengaruhi anak,” ujarnya.
Dispendik, lanjut Dindin, sudah melakukan koordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk merumuskan langkah pencegahan.
Salah satunya melalui edukasi tentang bahaya minuman keras (miras) dan narkoba yang menjadi salah satu faktor pemicu anak mudah tersulut emosi.
Program penyuluhan akan lebih digalakkan di sekolah-sekolah untuk menanamkan pemahaman sejak dini.
Terkait wacana yang sempat muncul untuk mengirim anak-anak nakal ke barak militer sebagai bentuk pembinaan, Dindin menegaskan belum berpikir ke arah tersebut.
“Dalam menangani kenakalan remaja, ada langkah-langkah yang harus dijalankan. Jangan sampai mental anak justru terganggu. Kami ingin mengedepankan upaya pencegahan dan edukasi yang lebih humanis,” katanya.
Dindin menambahkan, menjaga karakter anak agar tetap sehat dan kuat menjadi prioritas utama.
Karena itu, pola penanganan harus menyesuaikan kebutuhan pendidikan anak, bukan sekadar memberi efek jera dengan cara-cara ekstrem.
“Harapan kami, melalui edukasi dan penyuluhan yang berkelanjutan, anak-anak lebih sadar dan tidak mudah terprovokasi untuk berbuat anarkis,” pungkasnya. (sub/c1) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah