BLITAR – Hilangnya Dara, seorang mahasiswi sejarah asal Blitar, hingga kini masih menyisakan misteri. Dara lenyap setelah melakukan ritual di Gunung Pegat, sebuah gunung yang diyakini menyimpan kutukan leluhur.
Peristiwa itu bermula dari mimpi aneh yang kerap dialami Dara. Ia mengaku sering melihat sosok perempuan Jawa kuno berkebaya putih dengan wajah berlumur darah. Sosok itu menatap tajam sambil berkata, “Balekno aku, balekno sumpahe.”
Gangguan tak berhenti sampai di situ. Dara kerap mendengar suara tangisan samar dari arah jendela kamar kosnya. Bahkan ia pernah melihat bayangan perempuan berdiri lalu menghilang seketika. Hal ini membuat Dara penasaran sekaligus gelisah.
Baca Juga: Pemkab Blitar Punya PR Besar Tekan Kasus Bayi Prematur, Ini Data Angka Kematian Ibu
Pencariannya menuntun Dara ke Perpustakaan Kuno Blitar. Dari sebuah catatan tua, ia menemukan nama Gunung Pegat yang disebut sebagai situs pemutusan janji leluhur di masa lalu. Gunung itu dipercaya sebagai tempat cinta dikutuk dan pengkhianatan dibayar dengan darah.
Tak berhenti di sana, Dara melakukan perjalanan ke sebuah desa terpencil di kaki Gunung Pegat. Di sana, ia bertemu Mbah Suro, seorang tetua desa yang diyakini mengetahui sejarah gunung tersebut.
Awalnya, Mbah Suro enggan bicara. Namun perlahan ia membuka suara. “Wong-wong kene wis lali karo janjiye, tapi Gunung ora bakal lali. Lelembute isih jaga nganti janjine ditepati maneh,” ujarnya dengan nada serius.
Ucapan itu justru membuat Dara semakin yakin. Ia menyiapkan sesaji seperti yang muncul dalam mimpinya: bunga kantil, kendi berisi air, dan kain batik tua. Malam harinya, Dara nekat naik ke Gunung Pegat seorang diri.
Ketika kabut turun, tangisan samar berubah menjadi jeritan nyata. Dari tanah muncul batu nisan tua, disertai hembusan angin kencang. Saat itulah Dara melihat sosok perempuan berkebaya putih dengan wajah hancur dan mata kosong.
Sosok tersebut berbicara lantang, “Aku dikhianati, janjinya dilanggar. Saiki, anak keturunanku kudu nebus.” Sejak saat itu, Dara tak pernah terlihat lagi.
Baca Juga: Rumah Rimbun di Cirebon Karya Studio Nadi, Hunian Tropis dengan Sentuhan Alam
Keesokan paginya, warga desa tidak menemukan jejak Dara. Namun mereka mendengar gamelan dan tangisan perempuan dari arah puncak gunung. Bagi warga, itu pertanda Dara benar-benar terseret ke dalam kutukan yang sudah turun-temurun.
Seorang warga desa mengaku sering mendengar suara gaib dari arah gunung. “Sak wancine bengi, koyo ono sing nangis karo gamelan muni. Nanging pas ditekani, sepi ora ono opo-opo,” ungkapnya.
Hilangnya Dara membuat banyak orang bertanya-tanya. Apakah ia benar-benar terjebak dalam kutukan leluhur, atau hanya tersesat di gunung sunyi itu? Hingga kini, tidak ada jawaban pasti.
Baca Juga: Rahasia Kulit Bebas Komedo, Begini Cara Pakai Viva Micellar dan Air Mawar yang Benar
Bagi para pemerhati budaya, kisah ini mencerminkan bagaimana legenda masih memengaruhi kehidupan masyarakat. Sejarawan lokal menyebut bahwa cerita Gunung Pegat menjadi simbol penting dalam memaknai janji leluhur.
“Dalam tradisi Jawa, sumpah bukan sekadar ucapan. Bila dilanggar, diyakini akan ada konsekuensi yang bisa berlangsung lintas generasi,” jelas seorang pemerhati sejarah Blitar.
Meski ada yang menganggap cerita ini mitos belaka, sebagian warga tetap percaya. Mereka menilai hilangnya Dara bukan kebetulan, melainkan tanda bahwa kutukan Gunung Pegat masih hidup hingga sekarang.
Kini, kisah Dara menjadi bagian dari legenda Gunung Pegat yang semakin mempertebal aura mistisnya. Gunung itu bukan hanya bukit sunyi di selatan Blitar, tapi juga pengingat bahwa janji leluhur tak bisa diabaikan begitu saja.
Editor : Anggi Septian A.P.