Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Misteri Kutukan Gunung Pegat, Dara Hilang Usai Ritual di Puncak

Anggi Septiani • Selasa, 9 September 2025 | 05:20 WIB

Misteri Kutukan Gunung Pegat, Dara Hilang Usai Ritual di Puncak
Misteri Kutukan Gunung Pegat, Dara Hilang Usai Ritual di Puncak

Blitar Kutukan Gunung Pegat di Blitar kembali jadi buah bibir setelah kisah mistis Dara, mahasiswi sejarah, mencuat. Dara dikabarkan hilang usai melakukan ritual di puncak gunung yang dipercaya menyimpan sumpah leluhur.

Gunung Pegat berada di kawasan selatan Blitar. Lokasinya jarang disebut dalam catatan resmi sejarah maupun obrolan masyarakat. Namun bagi sebagian warga desa sekitar, gunung ini bukan sekadar bukit sunyi, melainkan tempat yang menyimpan janji leluhur yang pernah diputus paksa.

Dalam kepercayaan warga, Gunung Pegat disebut sebagai situs ritual pemisahan. Tempat di mana cinta dikutuk, pengkhianatan dibayar dengan darah, dan setiap janji yang diingkari akan menagih balas. Inilah yang membuat kutukan Gunung Pegat masih dibicarakan hingga kini.

Baca Juga: Pemkab Blitar Punya PR Besar Tekan Kasus Bayi Prematur, Ini Data Angka Kematian Ibu

Kisah Dara bermula dari mimpi aneh yang datang bertubi-tubi. Ia mengaku sering melihat sosok perempuan Jawa kuno mengenakan kebaya putih berdarah. Perempuan itu menatapnya dan berpesan singkat, “Balekno aku, balekno sumpahe.”

Dara pun terbangun berkeringat setiap malam. Ia mendengar suara tangisan samar, bahkan sempat melihat bayangan perempuan di jendela kamarnya. Sejak itu, ia mulai menelusuri jejak yang membawanya ke Perpustakaan Kuno Blitar.

Di sana, Dara menemukan catatan tua yang menyebut nama Gunung Pegat. Catatan itu menjelaskan bahwa gunung tersebut menjadi saksi janji leluhur yang diputus secara paksa pada masa Mataram. Dari peta kuno beraksara Jawa, Dara memutuskan untuk melakukan perjalanan ke desa terpencil di kaki gunung.

Baca Juga: Dispora Kota Blitar Peringati Haornas Ke-42 dan Gelar Liga Pelajar 2025, Wali Kota Mas Ibin: Junjunglah Sportivitas

Sesampainya di sana, Dara bertemu seorang tetua desa bernama Mbah Suro. Awalnya sang kakek enggan berbicara, namun kemudian ia berpesan lirih. “Wong-wong kene wis lali karo janjiye, tapi Gunung ora bakal lali. Lelembute isih jaga nganti janjine ditepati maneh,” ujar Mbah Suro.

Pernyataan itu membuat Dara semakin yakin. Malam harinya, ia nekat mendaki Gunung Pegat. Dara membawa sesaji yang ia lihat dalam mimpinya: bunga kantil, air kendi, dan kain batik tua.

Kabut turun ketika tengah malam tiba. Suara tangisan yang sebelumnya hanya terdengar samar, kini bergema lebih nyata. Batu nisan kuno muncul dari tanah, diiringi jeritan angin yang menusuk.

Baca Juga: Rumah Rimbun di Cirebon Karya Studio Nadi, Hunian Tropis dengan Sentuhan Alam

Dara menyaksikan langsung sosok perempuan berkebaya putih. Wajahnya rusak, matanya kosong, namun suaranya lantang. “Aku dikhianati, janjinya dilanggar. Saiki, anak keturunanku kudu nebus,” ucapnya.

Belakangan terungkap, Dara merupakan keturunan salah satu tokoh yang dulu memutus janji suci leluhur di Gunung Pegat. Karena itulah ia menjadi sasaran kutukan. Satu-satunya jalan keluar adalah melakukan ritual penyatuan kembali sumpah leluhur.

Dara kemudian menyalakan obor dan membaca mantra kuno di puncak gunung. Api berkobar, kabut makin tebal, dan suara gamelan terdengar dari arah yang tak terlihat. Itulah ritual terakhir yang diketahui dilakukan Dara.

Baca Juga: Rumah Rimbun Cirebon Karya Studio Nadi, Wujud Tren Arsitektur Hijau Masa Depan

Keesokan paginya, Dara tak pernah ditemukan. Warga desa hanya mendengar gamelan dan tangisan perempuan dari arah puncak. Mereka percaya arwah leluhur masih menjaga Gunung Pegat, menagih janji yang dilanggar generasi demi generasi.

Sejarawan lokal menilai, kisah Gunung Pegat mencerminkan bagaimana masyarakat Jawa memaknai janji leluhur. “Legenda ini mengajarkan bahwa sumpah tidak bisa diputus begitu saja. Ada konsekuensi spiritual yang dipercaya akan menurun pada keturunan,” kata seorang pemerhati budaya Blitar.

Kini, Gunung Pegat bukan hanya sekadar bentang alam di selatan Blitar. Ia menjadi simbol janji yang terlupakan, juga pengingat bahwa setiap pengkhianatan akan menagih balas.

Baca Juga: Rumah Rimbun Cirebon Karya Studio Nadi, Wujud Tren Arsitektur Hijau Masa Depan

Meskipun sebagian menganggap cerita ini sekadar mitos, warga desa tetap meyakini kutukan Gunung Pegat nyata adanya. Bagi mereka, suara tangisan di malam hari hanyalah tanda bahwa leluhur masih berjaga.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Kutukan Leluhur #gunung pegat #Misteri Blitar