Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Terungkap! Bung Karno Pernah Menginap di Kamar Misterius Perkebunan Kopi Karanganyar Blitar

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Selasa, 9 September 2025 | 05:30 WIB
Terungkap! Bung Karno Pernah Menginap di Kamar Misterius Perkebunan Kopi Karanganyar Blitar
Terungkap! Bung Karno Pernah Menginap di Kamar Misterius Perkebunan Kopi Karanganyar Blitar

BLITAR – Jejak Presiden Pertama RI, Soekarno, ternyata juga melekat di Perkebunan Kopi Karanganyar, Kabupaten Blitar. Bung Karno disebut pernah menginap di sebuah kamar misterius di loji perkebunan bersejarah ini pada akhir 1950-an.

Kisah ini diceritakan langsung oleh Wima Pramantia, CEO Perkebunan Kopi Karanganyar. Menurutnya, kamar tersebut kini sengaja dijaga dan disebut sebagai “Kamar Bung Karno”.

“Cerita ini saya dapat dari kakek saya dan juga sejarawan lokal. Bung Karno pernah singgah, mungkin sekitar tahun 1957 atau 1959. Tidak ada dokumentasi pasti, tapi vibrasi kamarnya terasa berbeda,” jelas Wima.

Perkebunan Kopi Karanganyar sendiri merupakan peninggalan Belanda yang kemudian dikelola oleh keluarga Wima sejak 1960-an. Loji besar peninggalan kolonial masih berdiri megah, lengkap dengan keramik, senjata tua, hingga koleksi pusaka.

Namun kamar Bung Karno menjadi magnet tersendiri. Pintu dan beberapa perabotan di kamar ini bahkan berasal dari Hotel Indonesia, yang dilelang setelah berganti manajemen. Pihak perkebunan memboyongnya untuk melengkapi ruangan bersejarah tersebut.

Di dalam kamar, terdapat pula topi laken Bung Karno yang diberikan oleh keluarga besar di Istana Gebang, Blitar. Topi itu sengaja tidak pernah dicuci, karena masih menyimpan keringat sang proklamator.

“Benda-benda itu kami rawat dengan baik. Bukan sekadar simbol, tapi juga pengingat generasi muda agar tidak melupakan sejarah,” tambah Wima.

Aura sejarah terasa kental di area perkebunan. Selain kamar Bung Karno, kompleks ini memiliki empat museum: Museum Loji, Museum Purnabakti, Museum Blitaran, dan Museum Pusaka. Di Museum Pusaka tersimpan keris legendaris, termasuk keris yang pernah dimiliki Jenderal Sudirman dan peninggalan era Majapahit.

Tidak hanya menyimpan benda tangible, Perkebunan Kopi Karanganyar juga menjaga tradisi intangible. Salah satunya adalah ritual “Manten Kopi”, prosesi adat yang dilakukan sebelum panen raya pada bulan Juni.

“Tradisi manten kopi ini unik. Sebelum panen, dilakukan upacara mengawinkan kopi jantan dan betina sebagai simbol kesuburan. Dulu banyak dilakukan di perkebunan lain, sekarang hampir punah,” terang Wima.

Kehadiran Bung Karno di Karanganyar dipercaya bukan sekadar singgah. Banyak yang meyakini beliau datang untuk menyepi dan mencari inspirasi. Lokasi perkebunan yang berdekatan dengan garis imajiner Gunung Kelud dan Candi Penataran disebut punya makna filosofis.

Energi besar dari sang proklamator konon masih terasa hingga kini. Beberapa pengunjung yang masuk ke kamar Bung Karno mengaku merasakan getaran berbeda, meski pihak perkebunan menegaskan tidak ada hal-hal mistis.

“Energi orang besar itu pasti tertinggal. Tapi ini bukan soal magis. Justru yang kami tangkap adalah pesan Bung Karno: jangan sekali-sekali melupakan sejarah,” kata Wima.

Pesan itu juga senada dengan semboyan legendaris Bung Karno: Jas Merah. Wima menegaskan bahwa sejarah adalah jendela kehidupan. Generasi muda harus belajar dari masa lalu agar bangsa tidak kehilangan jati dirinya.

Kini, Perkebunan Kopi Karanganyar tidak hanya menjadi tempat produksi kopi robusta dan excelsa. Lokasi ini juga berkembang sebagai destinasi wisata sejarah, edukasi, hingga budaya.

Turis domestik maupun mancanegara, terutama dari Belanda, kerap berkunjung untuk menyusuri jejak kolonial dan mengenal warisan budaya lokal.

“Bagi saya, melestarikan heritage ini adalah bentuk rasa syukur. Dengan menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali potensinya, kita bisa belajar sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar,” pungkas Wima.

Jejak Bung Karno di Perkebunan Kopi Karanganyar pun kini menjadi simbol penting. Bukan hanya nostalgia, tetapi juga pengingat agar generasi Indonesia selalu ingat asal-usul bangsanya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Perkebunan Kopi Karanganyar #Bung Karno #blitar