BLITAR – Kopi bukan hanya soal rasa dan aroma. Di Blitar, kopi juga punya sisi budaya yang unik, salah satunya lewat tradisi manten kopi.
Ritual ini masih dilestarikan di Perkebunan Kopi Karanganyar, Kabupaten Blitar. Prosesi manten kopi dilakukan setiap menjelang panen raya pada bulan Juni.
Wima Pramantia, CEO Perkebunan Kopi Karanganyar, menjelaskan bahwa ritual ini sudah ada sejak zaman nenek moyang. “Manten kopi itu simbol kesuburan. Ada prosesi mengawinkan kopi jantan dan betina, supaya hasil panen melimpah,” ujarnya.
Upacara manten kopi dilakukan dengan penuh khidmat. Dua pohon kopi—satu disebut jantan, satu disebut betina—dipertemukan dalam sebuah prosesi simbolis.
Kedua pohon dihias dengan janur, bunga, dan sesaji. Lalu, ada doa bersama sebagai tanda permohonan restu kepada Tuhan agar panen berjalan lancar.
Tradisi ini dulu banyak dijumpai di perkebunan-perkebunan kopi Jawa Timur. Namun, kini hanya sedikit yang masih melestarikan. Karanganyar menjadi salah satu yang konsisten menjaganya.
“Kalau tradisi ini hilang, maka hilang juga filosofi kopi yang sebenarnya. Kopi bukan hanya komoditas, tapi juga punya nilai spiritual dan budaya,” tambah Wima.
Bagi masyarakat lokal, manten kopi adalah bentuk rasa syukur atas alam. Kopi dianggap sebagai makhluk hidup yang juga harus diperlakukan dengan hormat.
Proses manten kopi biasanya diiringi kesenian rakyat. Ada gamelan, tarian, dan juga doa-doa adat. Semua dilakukan dengan suasana guyub dan penuh makna.
Tidak jarang, acara ini menarik perhatian wisatawan. Turis dari luar kota bahkan mancanegara penasaran ingin menyaksikan langsung prosesi yang jarang terdengar ini.
“Pernah ada tamu dari Belanda yang ikut menyaksikan. Mereka kagum, karena di Eropa kopi hanya dilihat sebagai produk. Di sini kopi diperlakukan seperti keluarga,” kata Wima.
Selain menjadi daya tarik wisata, manten kopi juga sarat nilai edukasi. Generasi muda bisa belajar tentang kearifan lokal dan hubungan harmonis manusia dengan alam.
Karanganyar berusaha menjadikan manten kopi sebagai kalender budaya tahunan. Harapannya, tradisi ini tidak punah dan bisa diwariskan ke generasi berikutnya.
“Kalau hanya bicara bisnis kopi, mungkin orang hanya fokus pada hasil. Tapi lewat manten kopi, kita diajarkan bahwa kopi adalah bagian dari kehidupan. Harus ada rasa hormat, rasa syukur, dan kebersamaan,” tutur Wima.
Kini, manten kopi tidak hanya sekadar ritual adat. Tradisi ini juga menjadi identitas Karanganyar, yang membedakannya dengan perkebunan kopi lain di Indonesia.
Wima yakin, semakin banyak orang mengenal manten kopi, semakin besar pula kesadaran masyarakat untuk menjaga budaya.
“Sejarah dan budaya itu warisan. Kalau kita tidak jaga, siapa lagi?” pungkasnya.
Ritual manten kopi di Karanganyar pun kini tak hanya jadi prosesi adat. Ia menjadi simbol bagaimana tradisi mampu hidup berdampingan dengan modernitas.
Editor : Anggi Septian A.P.