Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Hidden Paradise Sejarah! Loji Belanda di Blitar Disulap Jadi Surga Edukasi Budaya

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Selasa, 9 September 2025 | 04:00 WIB
Hidden Paradise Sejarah! Loji Belanda di Blitar Disulap Jadi Surga Edukasi Budaya
Hidden Paradise Sejarah! Loji Belanda di Blitar Disulap Jadi Surga Edukasi Budaya

BLITAR – Jika mendengar kata perkebunan kopi, yang terbayang biasanya hanyalah barisan pohon hijau dan aroma biji kopi. Namun, di Perkebunan Karanganyar, Kabupaten Blitar, pengalaman yang didapat jauh lebih kaya.

Di sini, berdiri megah sebuah loji peninggalan Belanda yang masih terawat rapi. Bangunan kolonial ini kini menjadi pusat wisata sejarah dan budaya, sehingga dijuluki sebagai hidden paradise sejarah di Blitar.

Loji Karanganyar dibangun pada awal abad ke-20 oleh keluarga Belanda yang mengelola perkebunan kopi. Setelah kemerdekaan, loji ini kemudian dikelola oleh keluarga besar Wima Pramantia, yang kini menjadi CEO Perkebunan Karanganyar.

“Loji ini kami rawat, bukan hanya sebagai bangunan tua, tapi juga sebagai bagian dari perjalanan bangsa. Dari sini orang bisa belajar banyak, dari kolonialisme hingga kemerdekaan,” jelas Wima.

Bangunan loji tampak megah dengan arsitektur klasik Eropa. Dinding tebal, lantai keramik kuno, hingga jendela besar khas Belanda masih dipertahankan keasliannya.

Yang membuatnya menarik, loji tidak sekadar dipajang sebagai bangunan tua. Bagian dalamnya kini diubah menjadi museum yang menyimpan berbagai koleksi sejarah.

Ada senjata-senjata peninggalan kolonial, keris pusaka, hingga perabotan rumah tangga Belanda yang asli. Bahkan beberapa pintu dan perlengkapan didatangkan dari Hotel Indonesia setelah dilelang.

“Setiap sudut loji ini punya cerita. Mulai dari ruang tamu, kamar tidur, hingga perabotan yang masih orisinal. Semua kami jaga agar pengunjung bisa merasakan atmosfer masa lalu,” tutur Wima.

Tak hanya itu, loji juga terhubung dengan empat museum lain di kawasan perkebunan: Museum Loji, Museum Purnabakti, Museum Blitaran, dan Museum Pusaka. Masing-masing punya koleksi berbeda, dari benda kolonial hingga artefak kerajaan kuno.

Pengunjung yang datang biasanya tak hanya menikmati kopi, tapi juga berjalan-jalan menyusuri lorong loji. Suasana tenang, rindang, dan penuh nilai sejarah membuat tempat ini kerap jadi spot favorit untuk foto hingga riset akademis.

“Bagi anak muda, hidden paradise ini bisa jadi tempat belajar sekaligus refreshing. Jadi bukan cuma ngopi, tapi juga mengenal sejarah,” kata Wima.

Banyak wisatawan dari luar daerah terkejut ketika melihat betapa lengkapnya warisan kolonial yang masih terjaga di Karanganyar. Bahkan turis mancanegara, khususnya dari Belanda, sering datang untuk melihat kembali jejak leluhur mereka.

Loji Karanganyar membuktikan bahwa bangunan kolonial tak harus dianggap sekadar peninggalan penjajah. Dengan pengelolaan tepat, loji bisa menjadi sarana edukasi sekaligus destinasi wisata.

Wima menegaskan, menjaga loji bukan hanya soal heritage, tapi juga tentang identitas. “Kalau bangunan seperti ini kita biarkan rusak, maka kita kehilangan bagian penting dari sejarah bangsa,” ujarnya.

Selain daya tarik sejarah, loji Karanganyar juga sering jadi tempat event budaya. Mulai dari diskusi sejarah, pameran seni, hingga pertunjukan musik akustik pernah digelar di sini.

Hal ini membuat loji bukan sekadar bangunan mati, tapi ruang hidup yang menyatukan masa lalu dengan masa kini.

“Hidden paradise ini harus terus kita rawat. Karena dengan mengenal sejarah, kita bisa lebih kuat melangkah ke masa depan,” pungkas Wima.

Kini, Perkebunan Karanganyar dengan loji Belandanya menjadi salah satu destinasi wajib di Blitar. Tempat ini menyajikan kopi nikmat, udara segar, sekaligus pelajaran sejarah yang tak ternilai.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Perkebunan Kopi Karanganyar #Bung Karno #blitar #loji belanda