BLITAR – Nama Gunung Pegat di Blitar jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari. Namun di balik kesunyian pegunungan selatan ini, tersimpan kisah unik yang jarang dibahas: Gunung Pegat dipercaya sebagai situs ritual pemisahan leluhur.
Sejarah resmi tak banyak mencatat keberadaan gunung ini. Di sekolah, nama Gunung Pegat hampir tidak pernah disebut. Namun catatan kuno dan cerita turun-temurun warga desa menyimpan narasi berbeda.
Gunung Pegat diyakini menjadi tempat di mana janji leluhur diputus secara paksa. Dalam legenda, pengkhianatan dan perpisahan yang terjadi di puncak gunung dibayar dengan darah. Dari sinilah lahir cerita tentang kutukan yang menurun lintas generasi.
Baca Juga: Pemkot Blitar Terus Jaga Harga Bahan Pokok Tetap Stabil, Ini yang Dilakukan
Penelusuran mengenai Gunung Pegat pernah dilakukan Dara, seorang mahasiswi sejarah asal Blitar. Ia menemukan catatan tua di Perpustakaan Kuno Blitar yang menyebut gunung ini sebagai titik terakhir perjanjian leluhur yang diputus.
Dalam peta beraksara Jawa, Gunung Pegat ditandai sebagai tempat suci. Catatan itu menyebutkan adanya ritual khusus yang dilakukan leluhur ketika sebuah janji besar harus diputus. Tak heran bila masyarakat menyebutnya sebagai “situs pemisahan.”
Keberadaan gunung ini juga masih melekat di ingatan warga desa sekitar. Seorang tetua bernama Mbah Suro mengatakan bahwa Gunung Pegat menyimpan kekuatan gaib. “Wong-wong kene wis lali karo janjiye, tapi Gunung ora bakal lali. Lelembute isih jaga nganti janjine ditepati maneh,” ujarnya.
Baca Juga: Si Kaya Kuasai Hektaran, Si Miskin Bertahan di Lahan Sempit: Fakta Ketimpangan Tanah Terbongkar
Pernyataan itu sejalan dengan kepercayaan Jawa yang menempatkan sumpah sebagai ikatan sakral. Bagi masyarakat tradisional, sumpah yang diputus paksa tak hanya berdampak di dunia nyata, tetapi juga pada alam gaib.
Gunung Pegat disebut sebagai saksi bisu dari peristiwa tersebut. Menurut cerita, suara gamelan dan tangisan perempuan sering terdengar dari arah puncak ketika malam tiba. Hal ini dianggap sebagai tanda bahwa janji leluhur masih dijaga hingga sekarang.
Meski demikian, Gunung Pegat tak banyak tercatat dalam buku sejarah resmi. Padahal, bila ditelusuri lebih dalam, keberadaannya bisa menjadi bahan kajian antropologi maupun sejarah lokal yang berharga.
Baca Juga: Pemkab Blitar Punya PR Besar Tekan Kasus Bayi Prematur, Ini Data Angka Kematian Ibu
Pemerhati budaya Blitar menilai, situs ini justru menunjukkan adanya sejarah alternatif yang hidup di tengah masyarakat. “Gunung Pegat adalah contoh bagaimana memori kolektif warga menyimpan kisah yang tak masuk catatan formal,” kata seorang sejarawan lokal.
Lebih dari sekadar legenda, Gunung Pegat menjadi pengingat bahwa tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa sarat dengan simbol dan makna. Situs ini menegaskan bahwa setiap janji leluhur bukan hanya urusan pribadi, melainkan juga warisan yang harus dihormati oleh keturunan.
Hingga kini, keberadaan Gunung Pegat tetap menjadi misteri sekaligus daya tarik. Bagi sebagian orang, ia hanyalah bukit sunyi yang jarang dikunjungi. Namun bagi warga setempat, gunung ini adalah penjaga janji lama yang belum ditepati.
Baca Juga: Pegiat Antinarkoba GMDM Kota Blitar Kawal Proses Hukum Kasus Ladang Ganja: Beri Efek Jera Pelaku
Blitar memang dikenal dengan sejarah besar, mulai dari kerajaan kuno hingga tokoh nasional. Namun kisah Gunung Pegat menambah warna lain: sebuah situs yang terlupakan dalam catatan formal, tapi hidup dalam cerita rakyat.
Keunikan inilah yang membuat Gunung Pegat layak dilihat sebagai bagian dari warisan budaya. Bukan sekadar cerita mistis, melainkan juga refleksi tentang betapa pentingnya janji dan sumpah dalam kehidupan leluhur Nusantara.
Editor : Anggi Septian A.P.