Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Blitar Bisa Kalahkan Jepang di Dunia Koi, Ini Rahasianya!

Ichaa Melinda Putri • Selasa, 9 September 2025 | 01:30 WIB
Blitar Bisa Kalahkan Jepang di Dunia Koi, Ini Rahasianya!
Blitar Bisa Kalahkan Jepang di Dunia Koi, Ini Rahasianya!

BLITAR-Blitar memiliki keunggulan unik dalam pemeliharaan ikan koi dibanding Jepang. Hal ini diungkap Handoko, pemilik Queen Koi Farm sekaligus Ketua Breeder Koi Indonesia.

“Kalau mengandalkan sumber daya alam, Blitar bisa pelihara ikan sepanjang tahun. Di Jepang tidak bisa karena ada musim salju,” ujarnya.

Perbedaan ini membuat breeder di Blitar mampu memijahkan ikan koi kapan saja. Di Jepang, pemijahan hanya satu kali setahun. Sedangkan di Blitar, air kolam bisa diatur sepanjang tahun.

Handoko memulai dunia perkoian pada 1994, awalnya tidak fokus pada koi. Ia sempat menjual ikan konsumsi dan hias di pameran-pameran lokal. Tahun 1996, ia sempat bekerja di Jakarta.

Namun krisis moneter 1998 membuatnya kembali ke Blitar. Dari pengalaman itu, Handoko kembali menekuni ikan hias, menjualnya dalam kantong plastik di Pasar Legi. Ia harus memulai dari nol.

Pada 2000, pasar direnovasi sehingga Handoko kesulitan menjual ikan. Ia pun membeli ikan keropyokan dari petani lokal di Sumber, Penataran, dan Nglegok. Ikan-ikan itu diseleksi untuk dibesarkan di kolam tanah miliknya.

Seiring waktu, ia membangun jaringan komunitas breeder koi. Ia bisa meminjam induk untuk dipijahkan di kolamnya. “Awal 2000, saya fokus di koi. Dulu kolam saya hanya tiga, jadi setiap induk ditebar penuh,” katanya.

Tahun 2002 sempat terjadi virus KHV yang mematikan banyak ikan. Banyak breeder gulung tikar. Tapi Handoko tetap konsisten melakukan breeding. Puncaknya, pada 2012, ia berhasil memijahkan jenis karasi dari induk Surabaya dan pejantan Malang.

Dari tiga kolam sawah, Handoko berhasil menghasilkan sekitar 3.000 ekor ikan. Sebagian dikembalikan ke pemilik induk, sisanya dijual. Ia pun sempat membesarkan ikan di Tegal, Jawa Tengah sebelum dikembalikan ke Blitar.

Prediksi harga jual ternyata meleset. Ikan ukuran 35–40 cm tidak laku mahal seperti perkiraan karena banyak orang meniru teknik breeding. Namun jumlah yang banyak tetap membuat usaha berjalan.

Selain strategi breeding, Handoko menekankan Blitar memiliki potensi alam yang bisa dimanfaatkan. “Sumber daya alam di sini lebih bagus daripada Jepang. Kita bisa breeding kapan saja,” jelasnya.

Ia menyarankan pemerintah daerah mendukung pengembangan kolam ikan. Selain untuk breeding koi, kolam juga bisa menampung air hujan dan menyuburkan tanah pertanian. Konsep ini mirip urban farming modern.

Beberapa lokasi di Blitar yang dulunya kolam koi kini dialihfungsikan menjadi kolam melon atau jagung karena permintaan pasar. Handoko berharap komunitas breeder bisa dihidupkan kembali melalui festival kecil-kecilan.

Festival ini akan mempermudah breeder pemula ikut serta dengan biaya pendaftaran rendah. Selain itu, ikan juara tetap mendapat pengakuan dan nilai jual tinggi. “Penginnya kami bikin show, tapi kapasitas kecil supaya semua bisa ikut,” ujarnya.

Blitar kini memiliki potensi bersaing dengan Jepang dalam dunia koi. Dengan dukungan pemerintah dan komunitas, kota ini bisa menjadi basis breeding ikan hias unggulan.

Handoko tetap optimistis. Meski beberapa kali gagal, ia terus mengembangkan teknik breeding dan menjaga kualitas ikan koi lokal agar bisa bersaing di pasar global.

Editor : Anggi Septian A.P.
#koi #blitar #ikan koi #breeder