BLITAR – Pesan seorang tetua desa bernama Mbah Suro kembali menggemparkan warga Blitar. Dengan nada pelan, ia berkata, “Gunung ora bakal lali. Lelembute isih jaga nganti janjine ditepati maneh.” Ucapan ini dipercaya sebagai penegas bahwa kutukan Gunung Pegat masih hidup hingga sekarang.
Gunung Pegat terletak di selatan Blitar. Meski jarang disebut dalam catatan resmi sejarah, gunung ini memiliki kedudukan khusus dalam cerita rakyat. Ia diyakini sebagai tempat di mana janji leluhur pernah diputus paksa, hingga meninggalkan kutukan lintas generasi.
Kisah ini mencuat kembali setelah Dara, mahasiswi sejarah, dikabarkan hilang di Gunung Pegat. Dara sebelumnya menelusuri catatan kuno yang menyebutkan bahwa gunung tersebut merupakan situs pemisahan leluhur. Pencariannya membawanya bertemu Mbah Suro, penjaga dusun yang dikenal bijak.
Baca Juga: Tangani Kenalam Remaja, Dispendik Kota Blitar Fokus pada Pencegahan dan Edukasi
Ketika ditanya soal Gunung Pegat, Mbah Suro awalnya hanya diam. Namun kemudian ia berucap kalimat yang kini ramai diperbincangkan. “Wong-wong kene wis lali karo janjiye, tapi Gunung ora bakal lali,” katanya. Kalimat itu seolah menjadi peringatan bahwa arwah leluhur masih berjaga.
Bagi warga desa, ucapan Mbah Suro bukan sekadar kata-kata. Mereka percaya bahwa sosok tua itu menyuarakan pesan gaib dari leluhur. “Mbah Suro dikenal sebagai orang yang ngerti sejarah gaib desa. Kalau beliau bicara begitu, artinya ada sesuatu yang benar-benar serius,” kata seorang warga.
Keyakinan itu sejalan dengan cerita mistis yang kerap terdengar. Suara gamelan dan tangisan perempuan konon sering muncul dari puncak gunung ketika malam tiba. Warga meyakini fenomena tersebut sebagai tanda kutukan masih aktif.
Baca Juga: Pemkot Blitar Terus Jaga Harga Bahan Pokok Tetap Stabil, Ini yang Dilakukan
“Kadang-kadang tengah malam terdengar gamelan. Ada juga suara tangisan. Tapi begitu dicari, tidak ada siapa-siapa,” ungkap warga lain.
Sejarawan lokal menilai, pesan Mbah Suro mencerminkan filosofi Jawa tentang janji leluhur. “Dalam pandangan tradisi Jawa, janji adalah ikatan sakral. Bila dilanggar, maka akan ada konsekuensi yang ditagih oleh alam atau leluhur,” jelas seorang pemerhati budaya Blitar.
Ucapan “Gunung ora bakal lali” pun menjadi simbol bahwa alam menyimpan memori. Meski manusia bisa lupa, namun tanah, gunung, dan arwah diyakini akan terus mengingat.
Baca Juga: Si Kaya Kuasai Hektaran, Si Miskin Bertahan di Lahan Sempit: Fakta Ketimpangan Tanah Terbongkar
Hilangnya Dara semakin memperkuat keyakinan warga. Mereka percaya Dara menjadi korban kutukan karena masih memiliki hubungan darah dengan leluhur yang pernah melanggar janji. Mbah Suro sendiri enggan berkomentar lebih jauh, hanya mengingatkan warga untuk tidak meremehkan sumpah leluhur.
“Janji iku kudu dijaga. Yen dilanggar, sing nuntut ora mung wong, tapi uga alam lan leluhur,” kata Mbah Suro dalam kesempatan lain.
Bagi masyarakat desa, Gunung Pegat kini bukan hanya sekadar bentang alam. Ia adalah peringatan hidup tentang janji yang tak boleh diingkari. Ucapan Mbah Suro menjadi pengikat cerita, sekaligus menegaskan bahwa legenda ini bukan sekadar mitos.
Baca Juga: Pemkab Blitar Punya PR Besar Tekan Kasus Bayi Prematur, Ini Data Angka Kematian Ibu
Blitar memang dikenal kaya akan sejarah dan budaya. Namun cerita Gunung Pegat, dengan pesan mistis Mbah Suro, menambah sisi spiritual yang membuat daerah ini semakin istimewa. Gunung itu adalah simbol, bahwa janji leluhur tak bisa dianggap sepele.
Ucapan sederhana “Gunung ora bakal lali” kini bergema lebih luas. Kalimat itu menjadi bagian dari identitas cerita rakyat Blitar, sekaligus pengingat bahwa waktu boleh berlalu, namun sumpah leluhur tak pernah benar-benar hilang.
Editor : Anggi Septian A.P.