BLITAR-Blitar memiliki keunggulan tersendiri dalam dunia koi. Handoko, pemilik Queen Koi Farm, membuktikan kemampuan breeding lokal bisa menghasilkan ribuan ikan berkualitas.
“Dari tiga kolam sawah, saya bisa seleksi dan mendapatkan 3.000 ekor koi yang siap dijual atau dipijahkan kembali,” ujarnya.
Keberhasilan ini tak lepas dari strategi pemijahan induk dan pejantan yang tepat. Pada 2012, Handoko meminjam induk dari Surabaya dan pejantan dari Malang.
Jenis karasi yang saat itu masih impor, berhasil dipijahkan dengan teknik seleksi dan pemeliharaan intensif. Ikan ukuran 20 cm dijual Rp500.000 per ekor, lebih murah dari harga impor Rp1 juta.
“Kalau dijual 300 ekor saja, sudah bisa menghasilkan keuntungan signifikan,” tambahnya.
Sistem pemeliharaan Handoko memanfaatkan kolam tanah dan mud pond. Ikan ditebar, diseleksi, dan dipelihara hingga mencapai ukuran optimal. Seleksi ketat memastikan kualitas tetap tinggi.
Selain itu, Handoko mengembangkan metode ajukari, teknik pemeliharaan di kolam lumpur ala Jepang. Ikan dibeli kecil dan dipelihara selama enam bulan sebelum diambil pembeli.
“Ajukari membantu kami menumbuhkan kualitas ikan hingga maksimal,” ujarnya.
Blitar sendiri memiliki keuntungan sumber daya alam yang melimpah. Air kolam tersedia sepanjang tahun, berbeda dengan Jepang yang terbatas oleh musim salju. Hal ini memungkinkan pemijahan dilakukan kapan saja.
“Kalau mengandalkan sumber daya alam, Blitar bisa pelihara ikan sepanjang tahun,” kata Handoko.
Meski prediksi harga jual ikan besar kadang meleset akibat banyak breeder meniru tekniknya, jumlah besar tetap membuat usaha berjalan. Sebagian besar ikan dijual, sebagian dipinjamkan kembali ke pemilik induk.
Baca Juga: Fat vs Fiber vs Akuarium: Mana Tempat Karantina Ikan Koi Paling Aman?
Pengelolaan kolam sawah yang sistematis juga memudahkan pemantauan kesehatan ikan. Handoko memastikan protein dan nutrisi ikan terjaga, meski kadang ada kematian dalam jumlah kecil akibat percobaan metode baru.
Selain keuntungan ekonomi, kolam sawah juga bisa berfungsi ganda. Air hujan bisa ditampung, menyuburkan tanah pertanian di sekitar kolam, dan mempermudah irigasi tanaman lain.
Handoko menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah. Jika kolam didukung dan difasilitasi, Blitar bisa menjadi pusat breeding ikan hias unggulan di Indonesia.
“Kolam yang dulu isinya koi bisa dialihfungsikan untuk pertanian, tapi idealnya tetap untuk breeding ikan,” jelasnya.
Komunitas breeder Blitar juga dihidupkan kembali melalui festival kecil-kecilan. Biaya pendaftaran rendah dan peluang juara menarik minat breeder pemula maupun penghobi.
“Dengan pendaftaran murah, semua orang bisa ikut, sekaligus mengangkat nilai jual ikan yang berkualitas,” tambah Handoko.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa teknik, ketekunan, dan pemanfaatan sumber daya lokal bisa menghasilkan hasil besar. Blitar membuktikan, dengan tiga kolam sawah, bisa menghasilkan ribuan ikan koi yang siap bersaing di pasar lokal maupun internasional.
Breeding koi kini menjadi lebih profesional di Blitar, dengan metode seleksi induk-pejantan, ajukari, dan kolam tanah yang optimal. Strategi ini membuat breeder lokal mampu bersaing dengan ikan impor dan menegaskan Blitar sebagai pusat ikan hias unggulan.
Editor : Anggi Septian A.P.