BLITAR-Blitar kembali menghidupkan komunitas breeder ikan hias. Handoko, pemilik Queen Koi Farm, menginisiasi festival koi mini.
“Dengan pendaftaran murah, kami ingin semua penghobi bisa ikut serta dan belajar breeding,” ujarnya.
Festival ini menargetkan breeder pemula maupun penghobi lama. Pendaftaran hanya Rp25.000–Rp100.000, jauh lebih terjangkau dibanding sebelumnya.
Tujuannya tidak sekadar lomba. Event ini menjadi sarana edukasi dan ajang seleksi ikan berkualitas.
Ikan yang menang akan diangkat nilainya, membantu breeder memasarkan ikan unggulan mereka.
Handoko menekankan pentingnya festival kecil untuk mengangkat minat breeding yang sempat lesu.
“Orang jadi tertarik untuk breeding karena ikan yang juara bisa dihargai lebih tinggi,” tambahnya.
Selain itu, festival juga memperkuat komunitas. Para penghobi bisa bertukar pengalaman dan teknik pemeliharaan.
Metode ajukari juga diperkenalkan di festival. Teknik pemeliharaan di kolam lumpur ala Jepang ini membantu kualitas ikan tetap optimal sebelum dilelang.
Blitar memiliki keunggulan sumber daya alam yang mendukung breeding sepanjang tahun. Air kolam melimpah, berbeda dengan Jepang yang bergantung pada musim salju.
Festival ini sekaligus jadi media promosi breeding lokal agar mampu bersaing dengan ikan impor.
Handoko berharap festival bisa menjadi agenda rutin setiap bulan, menjaga semangat breeder tetap hidup.
“Kalau setiap bulan ada festival kecil, minat orang untuk breeding akan terus meningkat,” jelasnya.
Event ini diharapkan juga mengedukasi masyarakat tentang pemanfaatan kolam ikan untuk lingkungan dan ekonomi.
Dengan festival ini, Blitar bisa menjadi contoh pengelolaan komunitas ikan hias yang terintegrasi dengan sumber daya alam lokal.
Penghobi tidak hanya datang untuk lomba, tetapi juga belajar memanfaatkan kolam untuk breeding yang efektif dan ramah lingkungan.
Handoko yakin, festival mini ini akan memacu pertumbuhan ekonomi lokal melalui breeding ikan hias yang berkualitas.
Selain itu, festival menjadi media menampilkan inovasi breeder, termasuk penggunaan kolam sawah dan teknik seleksi induk-pejantan.
“Festival kecil tapi manfaatnya besar, baik untuk breeder maupun penghobi,” pungkas Handoko.
Blitar membuktikan bahwa dengan strategi, inovasi, dan komunitas yang solid, kota kecil bisa bersaing di dunia ikan hias, bahkan menyaingi teknik impor dari Jepang.
Editor : Anggi Septian A.P.