Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Tradisi Tiban Mempesona di Karnaval Desa Sawentar: Ketika Ritual Meminta Hujan Bertemu Perayaan Modern

Rahma Nur Anisa • Selasa, 9 September 2025 | 04:00 WIB

Paguyuban Kesenian Tiban Sawentar Manunggal gelar aksi pecut di karnaval Desa Sawentar.
Paguyuban Kesenian Tiban Sawentar Manunggal gelar aksi pecut di karnaval Desa Sawentar.

BLITAR KAWENTAR - Karnaval Dalam Rangka Peringatan HUT-RI ke 80 di Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, pada 6 September 2025 menjadi panggung spektakuler bagi paguyuban lokal yang menghidupkan kembali tradisi Tiban—ritual kuno meminta hujan yang kini menemukan relevansinya di era modern.

Pagi itu, Desa Sawentar berubah menjadi arena budaya yang memukau. Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-80, Pemerintah Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro menggelar karnaval desa pada Sabtu, (06/09/25). Yang menarik perhatian adalah kehadiran paguyuban tradisional yang membawa pertunjukan Tiban, sebuah warisan budaya Jawa Timur yang hampir punah.

Tiban merupakan ritual rakyat yang turun temurun menjadi bagian kebudayaan masyarakat Jawa Timur, terutama pada daerah Trenggalek, Blitar, Kediri dan Tulungagung. Tradisi ini menggabungkan tarian dengan ritual spiritual, di mana para penari menggunakan pecut yang terbuat dari batang daun lontar diiringi dengan suara gamelan jawa.

Tujuan diadakannya Tiban adalah untuk meminta hujan kepada Sang Pencipta, menyimpan makna tersirat sebagai upaya untuk melestarikan alam. Dalam konteks karnaval Desa Sawentar, ritual ini mendapat dimensi baru sebagai medium pelestarian budaya sekaligus daya tarik wisata.

Kegiatan ini bukan hanya sebagai bentuk perayaan, namun juga sarana edukasi budaya. Kehadiran tradisi Tiban dalam karnaval menunjukkan adaptasi cerdas warisan leluhur dengan kebutuhan generasi milenial.

 

Kehadiran tradisi Tiban dalam karnaval Desa Sawentar menciptakan multiple impact. Dari sisi sosial, masyarakat, terutama generasi muda, kembali mengenal warisan budaya yang hampir terlupakan. Secara ekonomi, event ini meningkatkan kunjungan wisatawan dan memberdayakan UMKM lokal.

Meski Tiban merupakan tradisi sadis yang dipertontonkan, anak-anak tetap didampingi oleh orang tuanya. Panitia paguyuban tiban juga melakukan alokasi jangkauan agar pecut tidak menyakiti warga. Dengan menggunakan tali pembatas, dapat dibilang cukup terkendali. Para pemain tiban pun meski meringis kesakitan, tetaplah ada tawa mengembang di wajah mereka.

 

 

Karnaval Desa Sawentar membuktikan bahwa tradisi dan modernitas bukan dikotomi yang bertentangan. Dengan pendekatan yang tepat, ritual spiritual seperti Tiban dapat survive dan thrive di era digital, memberikan kontribusi signifikan bagi pelestarian budaya, pengembangan ekonomi kreatif, dan penguatan identitas lokal dalam konteks global. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#tiban blitar #sawentar #karnaval #tiban #tradisi #HUT RI Ke 80