BLITAR – Penjaringan hingga pembinaan atlet muda potensial terus dimaksimalkan oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Blitar.
Namun, anggaran yang terbatas menjadi salah satu kendala besar yang dihadapi.
Ini membuat KONI kota berupaya memutar otak agar penjaringan dan pembinaan bibit atlet muda potensial tetap jalan.
Salah satu inovasi yang akan dilakukan, yakni kolaborasi dengan sekolah untuk optimalisasi ekstrakulikuler (ekskul) olahraga.
”Ya, kami segera berkoordinasi dengan dinas pendidikan dan dispora (dinas kepemudaan dan olahraga) untuk mengoptimalkan ekskul olahraga di sekolah dalam rangka penjaringan atlet muda potensial,” terang Ketua KONI Kota Blitar, Sukarji kepada Koran ini Senin (8/9/2025).
Menurut dia, pemanfaatan ekskul olahraga di sekolah merupakan salah satu pola pembinaan bibit atlet muda.
Apabila dalam pembinaan ekskul muncul bibit atlet potensial, KONI siap untuk menjaringnya.
”Di situ kami akan menampung untuk program pembinaan lebih lanjut dan tentunya terarah dan terpusat. Misinya tentu prestasi,” ungkapnya.
Nah, pembinaan atlet muda potensial yang dilakukan oleh KONI fokusnya adalah prestasi. Dengan kata lain, pembinaan ditujukan khusus kepada atlet-atlet potensial dan siap untuk melaju pada kompetisi level regional dan nasional.
”Jika kami harus membina dari nol, anggaran kami sedikit. Tentu tidak akan maksimal. Solusinya ya kami bekerjasama dengan dispendik agar sekolah mengoptimalkan ekskul olahraganya, baik itu sepakbola, basket, bulutangkis maupun atletiknya,” jelasnya.
Tidak hanya lewat ekskul, pembinaan atlet juga dilakukan oleh masing-masing cabang olahraga (cabor) seperti lewat klub.
Misalnya, cabor atau klub olahraga tertentu membuka kursus untuk pembinaan. Kursus tersebut berbiaya sehingga masyarakat khususnya orang tua yang ingin memasukkan anaknya harus merogoh kocek.
KONI, ujar Sukarji, tak menampik hal tersebut karena cabor atau klub memang butuh anggaran untuk menunjang operasional.
Kondisi itu sah-sah saja dan tidak menyalahi aturan.
”Dengan catatan memang sudah ada kesepakatan antara wali atlet dengan cabor tersebut. Namun, di KONI tidak bisa melakukan hal tersebut karena terbentur aturan. Fokus KONI itu membina atlet yang memang sudah ada potensi untuk target prestasi berdasarkan kategori usia kompetisi,” tandasnya. (sub/ady) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah