Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Doa Bersama di Makam Mbah Moedjair, Haul Ke-68 Pahlawan Perikanan Darat dari Kabupaten Blitar

Yanu Aribowo • Rabu, 10 September 2025 | 02:00 WIB
KHIDMAT: Doa bersama dalam rangka Haul Ke-68 Mbah Moedjair di Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, pada Sabtu (6/9).
KHIDMAT: Doa bersama dalam rangka Haul Ke-68 Mbah Moedjair di Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, pada Sabtu (6/9).

BLITAR – Kabupaten Blitar pernah memiliki Pahlawan Perikanan Darat yang memperkenalkan dan membudidayakan ikan dengan nama latin Oreochromis mossambicus. Dalam penyebutan lokal, ikan dari Benua Afrika ini dikenal dengan nama ikan mujair, sesuai nama Mbah Moedjair yang pertama kali membudidayakan di kolam air tawar pada 1936 silam.

September adalah momen haul Mbah Moedjair yang wafat di Desa Papungan pada 7 September 1957 silam dan tahun ini haul memasuki yang ke-68. Pada Sabtu (6/9) sore, keluarga besar, pemerintah desa dan masyarakat Desa Papungan, menggelar khotmil Quran dan doa bersama di area makam Mbah Moedjair di samping pemakaman umum Dusun Papungan.

Agenda doa bersama ini merupakan agenda tahunan untuk mendoakan dan mengenang perjuangan Mbah Moedjair dalam membudidayakan ikan mujair di kolam air tawar. “Semoga nilai perjuangan Mbah Moedjair mampu menjadi inspirasi generasi masa kini,” ungkap Ketua Pokdarwis Kampoeng Moedjair, Satrio Wibowo.

Seperti diketahui, Mbah Moedjair lahir di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, pada 20 Mei 1890. Beliau pertama kali berjumpa dengan cikal bakal ikan mujair di muara Sungai Serang, Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, pada 25 Maret 1936, saat bersama rombongan perangkat dan masyarakat Desa Papungan merayakan Suroan di Pantai Serang.

Usai perjalanan yang ke-10, ikan itu berhasil beradaptasi di kolam air tawar di Desa Papungan dan terus berkembang biak sejak akhir 1936. Sampel ikan dari Desa Papungan pernah dibahas dan diperkenalkan dalam Konferensi Ahli Perikanan Darat di Surabaya pada November 1939.

Sebagai bentuk apresiasi dari pemerintah kala itu kepada Mbah Moedjair, disematkan nama lokal ikan mujair. Salah satu referensi yang menyebut ikan tersebut dengan nama lokal ikan mujair adalah surat kabar Soerabaijasch Handelsblad edisi 16 November 1940.

Semasa hidupnya, Mbah Moedjair pernah mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia pada 1951 dan penghargaan dari Executive Committee Indo Pacific Fisheries Council pada 1954.

Meski jasanya dalam dunia perikanan sangat besar, namun hingga kini belum ada museum seputar Mbah Moedjair yang diharapkan bisa menjadi salah satu materi edukasi untuk generasi masa kini. “Harapannya, suatu saat nanti ada museum Mbah Moedjair,” ungkap pria yang merupakan cicit Mbah Moedjair ini.

Selain masyarakat setempat, momen spesial ini dihadiri perwakilan keluarga besar Mbah Moedjair, termasuk Mbah Munir anak ke-5 Mbah Moedjair yang masih dikaruniai umur panjang. Tampak Mbah Munir yang berusia 90 tahun mengenakan atasan batik coklat keemasan berdampingan dengan Bupati Blitar, Rijanto bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar, Camat Kanigoro, dan Kepala Desa Papungan. (ynu)

Editor : Yanu Aribowo
#blitar #pahlawan #Moedjair #mujair #kanigoro