BLITAR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar memastikan hingga Agustus 2025 tidak ditemukan kasus campak.
Meski begitu, kewaspadaan tetap ditingkatkan dengan memperkuat sistem surveilans di seluruh fasilitas kesehatan. Mengingat, Sumenep sudah berstatus kejadian luar biasa (KLB) terhadap penyakit ini.
Koordinator Surveilans dan Imunisasi Dinkes Kabupaten Blitar, Endro Pramono menyampaikan, sejak Januari hingga Agustus tercatat ada 75 laporan suspek campak. Namun, setelah dilakukan uji laboratorium, seluruh sampel dinyatakan negatif.
“Setiap ada laporan, langsung kami tindak lanjuti dengan pengambilan sampel dan dikirim ke laboratorium. Hasilnya sejauh ini semua negatif. Jadi bisa dikatakan nol kasus campak di Kabupaten Blitar,” ujar Endro.
Menurutnya, gejala suspek campak biasanya ditandai ruam pada kulit. Namun, ruam tersebut bisa juga disebabkan penyakit lain seperti rubela, demam berdarah, alergi, hingga biang keringat.
Maka dari itu, semua kasus ruam tetap diperiksa di fasilitas kesehatan untuk memastikan jika bukan campak.
Endro menambahkan, capaian imunisasi measles rubela (MR) atau vaksin campak di Kabupaten Blitar cukup memengaruhi kondisi ini.
Meski data proyeksi dari pusat menyebut cakupan sekitar 75,7 persen, perhitungan riil di lapangan menunjukkan angka sebenarnya lebih tinggi yakni mencapai di atas 85 persen.
“Kalau dihitung berdasarkan bayi yang lahir di Blitar, cakupannya bisa lebih dari 90 persen. Karena angka kelahiran di sini memang menurun, otomatis jumlah bayi yang diimunisasi juga lebih sedikit,” paparnya.
Endro menegaskan, imunisasi MR diberikan pada bayi usia 9–11 bulan. Anak yang sudah mendapat imunisasi campak masih bisa terkena, tetapi gejalanya tidak akan berat. Sebab, imunisasi itu melindungi agar anak tidak mengalami gejala parah bila terpapar.
Berdasarkan catatan dinkes, jumlah suspek campak di Blitar cenderung menurun sejak awal tahun.
Pada Januari tercatat 19 kasus, Februari 11 kasus, dan terus berkurang hingga Juli–Agustus hanya 8 kasus per bulan.
“Ciri-ciri campak itu biasanya dimulai dari demam tinggi, lalu muncul ruam di sekitar telinga dan menyebar. Kalau menemukan gejala seperti ini, segera periksakan ke puskesmas agar bisa dipastikan,” pungkasnya. (jar/c1/ynu) (*)