BLITAR - Di tengah gempuran teknologi yang membuat tingkat minat baca masyarakat terus menurun, Komunitas Blitar Read Aloud (TARRA) hadir untuk menggiatkan dan menggairahkan minat berliterasi. Mereka fokus mengajak orang tua untuk membaca buka secara nyaring kepada anak-anak sebagai langkah awal menumbuhkan budaya membaca.
Komunitas ini digagas oleh Elia Putrisia, 38, seorang ibu rumah tangga asal Blitar. Sebelumnya, Elia merupakan seorang dokter umum di Mojokerto. Dia memilih berhenti praktik sejak melahirkan anak pertama pada 2016. Ketertarikannya pada dunia edukasi ibu dan anak membawanya mendalami pendidikan anak usia dini, hingga menjadi Read Aloud Trainer dan Childbirth Educator dari AMANI Birth Indonesia.
“Banyak anak di Indonesia bisa membaca lancar, tapi kurang memahami isi bacaan. Padahal literasi itu sangat penting. Dari situ, saya ingin mengenalkan read aloud sebagai kebiasaan baik, dimulai dari keluarga,” ungkap Elia.
Perjalanan mendirikan komunitas tidaklah mudah. Saat itu, syarat membuat komunitas harus memiliki minimal tiga anggota yang berdomisili di wilayah Blitar, punya visi dan misi, rencana kegiatan, dan akun media sosial. Dia memulai seorang diri, lalu mengajak adik iparnya, hingga akhirnya bertemu dua anggota lain. Niatnya juga didukung sesama pegiat literasi, termasuk Roosie Setiawan, pendiri Reading Bugs.
Dari awal yang sederhana, TARRA kini sudah memiliki 36 anggota aktif yang sebagian besar perempuan dewasa. Rekrutmen dibuka rutin dua kali setahun. Meski belum memiliki kantor atau base camp khusus, setiap kegiatan komunitas digelar di berbagai lokasi berbeda seperti sekolah, perpustakaan, hingga ruang terbuka publik. “Untuk kebutuhan administrasi dan surat-menyurat, komunitas masih menggunakan alamat di rumah saya, di Jalan Madura, Sananwetan,” akunya.
Visi komunitas ini adalah “mewujudkan generasi gemar membaca, dimulai dari keluarga”. Misinya mengajak orang tua membacakan nyaring, juga mengenalkan manfaat buku bacaan, serta membangun budaya membaca di rumah.
Kegiatan TARRA cukup beragam. Mulai dari lapak baca gratis di Taman Kebon Rojo, kunjungan ke sekolah, hingga donasi buku yang diadakan dua kali setahun pada Januari/Februari, dalam rangka World Read Aloud Day (WRAD), dan pada Juli bertepatan dengan Hari Anak Nasional (HAN).
“Kami juga aktif berkolaborasi dengan berbagai pihak, seperti Yatim Mandiri, Perpustakaan Proklamator Bung Karno, hingga Dinas Perpusip Kota dan Kabupaten Blitar,” bebernya.
Meski telah berjalan tiga tahun, Elia mengakui masih ada tantangan ke depan. Banyak masyarakat belum memahami apa itu read aloud, bahkan sering kali menyamakan dengan mendongeng. Padahal, perbedaan mendasar ada pada media yang digunakan yaitu buku.
“Kegiatan ini sederhana. Cukup ada pembaca, yang dibacakan, dan buku. Yang sulit justru kemauan orang tua untuk konsisten,” tegasnya.
Dia berharap semakin banyak masyarakat, baik orang tua, guru, maupun remaja, yang tergerak mempraktikkan membaca nyaring. Dia menekankan pentingnya kebiasaan ini di tengah derasnya arus teknologi dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) agar anak-anak tetap terlatih fokus, berpikir kritis, dan memahami bacaan.
“Sesuai slogan komunitas, membaca nyaring, kebiasaan baik untuk semua. Literasi bukan sekedar baca tulis, tapi membentuk fondasi penting generasi masa depan,” terangnya. (*/c1/ady) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah