BLITAR-Gunung Kelud di Jawa Timur tidak hanya dikenal karena letusannya yang dahsyat.Gunung ini juga menjadi pusat tradisi unik, yaitu ritual Suro yang masih rutin digelar masyarakat Blitar dan Kediri.
Tradisi ini dipercaya sebagai cara menolak kutukan Lembu Suro.
Sosok legendaris berkepala lembu itu diyakini meninggalkan sumpah bahwa Kediri akan jadi sungai, Blitar menjadi daratan, dan Tulungagung menjelma gedung.
Setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa, masyarakat di lereng Gunung Kelud berkumpul.Mereka melakukan doa bersama, membawa sesaji, dan menggelar upacara adat yang penuh makna.
Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Buka Program Magang, Siswa dan Mahasiswa Bisa Daftar
Wage Keramat, Hari yang Dianggap Sakral
Ritual ini kerap digelar pada pasaran Wage, yang disebut sebagai “Wage Keramat”.
Hari itu diyakini sangat erat dengan siklus letusan Gunung Kelud.
Menurut sesepuh Desa Sugihwaras, Kediri, kepercayaan ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu.“Dulu, setiap kali Kelud menunjukkan aktivitas, warga langsung menggelar selamatan.
Bukan hanya untuk keselamatan desa, tapi juga untuk menolak bala sumpah Lembu Suro,” katanya.
Bagi warga setempat, ritual Suro bukan sekadar tradisi, melainkan juga ikatan spiritual dengan Gunung Kelud.
Mereka percaya, doa bersama dapat meredam “amarah” gunung berapi aktif itu.
Baca Juga: Dulu Diremehkan, Kini Produk Lokal BLP Beauty Jadi Andalan Anak Muda!
Sesaji dan Doa Bersama
Dalam ritual, warga biasanya membawa hasil bumi seperti nasi tumpeng, buah, dan hasil panen lain.
Semua sesaji diletakkan di pelataran yang menghadap ke puncak Kelud.
Doa bersama kemudian dipanjatkan oleh tokoh adat dan tokoh agama.
Warga yang hadir ikut menundukkan kepala dengan khidmat.
Bagi umat Hindu di lereng Kelud, ritual ini juga menjadi bentuk syukur kepada Sang Hyang Widhi.Mereka meyakini Gunung Kelud adalah bagian dari jagat raya yang harus dijaga keseimbangannya.
Baca Juga: Program PKH Dorong Penerima Manfaat Jadi Mandiri Lewat Usaha Kecil
Seiring waktu, ritual Suro di Kelud tidak hanya menarik perhatian warga sekitar.
Banyak wisatawan yang ikut hadir untuk menyaksikan tradisi unik ini.
Bahkan sejumlah komunitas pecinta budaya kerap datang dari luar kota.
Mereka ingin melihat langsung bagaimana masyarakat Jawa Timur menjaga warisan leluhur.
Seorang wisatawan asal Surabaya mengaku terkesan setelah ikut dalam ritual.
“Rasanya merinding mendengar doa bersama dengan latar Gunung Kelud.
Tradisi ini membuat kita sadar, masyarakat di sini punya cara sendiri berdamai dengan alam,” ujarnya.
Mitos yang Terus Hidup
Legenda Lembu Suro tetap menjadi latar belakang ritual ini.
Kisah tentang makhluk berkepala lembu yang ditolak cintanya lalu mengutuk tanah Jawa tidak pernah pudar.
Meski sains menjelaskan letusan Kelud sebagai proses geologi, bagi warga, mitos tetap hidup.Mereka percaya kutukan Lembu Suro adalah simbol bahwa manusia harus selalu menghormati alam.
Setiap generasi diajarkan untuk menjaga tradisi ini.
Bagi warga Blitar dan Kediri, ritual Suro adalah warisan budaya sekaligus doa untuk keselamatan.
Gunung Kelud sebagai Titik Spiritual
Gunung Kelud memang menyimpan daya tarik tersendiri.
Selain panorama kawahnya, gunung ini juga dipandang sebagai titik spiritual yang sakral.
Legenda, mitos, dan ritual adat melebur menjadi satu dalam kehidupan masyarakat.
Inilah yang membuat Gunung Kelud bukan sekadar gunung berapi, melainkan pusat budaya Jawa Timur.
Bagi warga lereng Kelud, ritual Suro adalah bukti bahwa legenda Lembu Suro tidak pernah mati.Ia tetap hidup, menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan keyakinan leluhur.
Editor : Anggi Septian A.P.