Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Hubungan Letusan Gunung Kelud dengan Lahirnya Hayam Wuruk dan Soekarno

Anggi Septiani • Jumat, 12 September 2025 | 06:20 WIB

Hubungan Letusan Gunung Kelud dengan Lahirnya Hayam Wuruk dan Soekarno
Hubungan Letusan Gunung Kelud dengan Lahirnya Hayam Wuruk dan Soekarno

BLITAR-Gunung Kelud bukan hanya dikenal sebagai gunung berapi aktif di Jawa Timur.Sejarah mencatat, letusannya kerap beriringan dengan lahirnya tokoh besar Nusantara.

Raja Majapahit, Hayam Wuruk, hingga Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, disebut lahir pada momen meletusnya Kelud.

Fenomena ini membuat masyarakat percaya bahwa setiap letusan membawa tanda besar bagi perjalanan bangsa.

Baca Juga: ⁠Mengenal TARRA, Komunitas Gerakan Membaca di Blitar Libatkan Keluarga

Kelud dan Pertanda Politik

Dalam tradisi Jawa, letusan gunung berapi kerap dipandang sebagai tanda perubahan.Tidak sekadar bencana alam, tetapi juga simbol peralihan kekuasaan.Beberapa catatan sejarah mendukung keyakinan itu.

Letusan tahun 1811 misalnya, terjadi hanya sebulan sebelum Inggris menyerbu Jawa.Pada 1901, letusan Kelud bersamaan dengan munculnya gerakan politik nasional.

Sementara letusan 1919 dianggap sebagai pertanda bangkitnya gerakan kebangsaan Indonesia.Letusan 1966 bahkan dipercaya menandai runtuhnya Orde Lama menuju Orde Baru.

Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Buka Program Magang, Siswa dan Mahasiswa Bisa Daftar

Kelahiran Tokoh Besar

Kepercayaan semakin kuat karena dua tokoh penting Nusantara lahir di saat Gunung Kelud meletus .Raja Hayam Wuruk dari Majapahit, dan Ir. Soekarno, proklamator kemerdekaan Indonesia.

Bagi masyarakat Jawa, ini bukanlah kebetulan.Lahirnya pemimpin besar dianggap sejalan dengangejolak bumisebagai tanda lahirnya kekuatan baru.Kalau Kelud meletus, selalu ada perubahan besar.

Mulai dari politik, hingga hadirnya sosok pemimpin yang membawa zaman baru,” kata Budiyanto, pemerhati sejarah asal Kediri.Menurutnya, mitos dan fakta sejarah kerap berjalan beriringan dalam tradisi Jawa Masyarakat tidak hanya melihat sisi ilmiah, tapi juga makna spiritual dari setiap peristiwa.

Baca Juga: Dulu Diremehkan, Kini Produk Lokal BLP Beauty Jadi Andalan Anak Muda!

Antara Mitos dan Fakta

Ilmu geologi menjelaskan bahwa Gunung Kelud memang termasuk salah satu yang paling aktif di Indonesia.Tercatat lebih dari 30 kali erupsi sejak abad ke-10.

Namun bagi masyarakat Jawa Timur, letusan itu punya dimensi lain.Ia selalu dikaitkan dengan legenda Lembu Suro dan pertanda politik.Sumpah Lembu Suro yang menyebut Kediri jadi sungai, Blitar jadi daratan, dan Tulungagung jadi gedung masih dipercaya.Begitu pula dengan keyakinan bahwa erupsi membawa pesan bagi Nusantara.

Seorang warga Blitar menuturkan bahwa cerita ini sudah diwariskan turun-temurun.Kakek saya selalu bilang, kalau Kelud marah, pasti ada perubahan besar di negeri ini,” ujarnya.

Baca Juga: Kartu KKS PKH dan BPNT Bisa Rusak Jika Terlalu Sering Dipakai Cek Saldo

Kelud dalam Ingatan Kolektif

Letusan terakhir pada 2014 membuktikan betapa dahsyatnya kekuatan Kelud.Meski tidak diiringi lahirnya tokoh besar, peristiwa itu tetap meninggalkan jejak dalam sejarah.

Abu vulkanik menyebar hingga Yogyakarta dan Jawa Tengah.Aktivitas ekonomi lumpuh, ribuan warga harus mengungsi.Namun yang menarik, masyarakat tetap menghubungkannya dengan pertanda tertentu.

Mereka percaya, setiap erupsi adalah pengingat agar manusia tidak sombong di hadapan alam.

Baca Juga: ⁠Pemkab Blitar Pertimbangkan Ajukan Bantuan ke Pemerintah Pusat, Apa Saja Bantuannya?

Simbol Keseimbangan

Bagi masyarakat Jawa, letusan Kelud adalah simbol keseimbangan.Di balik kehancuran, selalu ada kelahiran atau kebangkitan baru.

Maka tak heran, kelahiran Hayam Wuruk dan Soekarno selalu dikaitkan dengan erupsi gunung ini.Keduanya membawa babak baru dalam sejarah, dari kejayaan Majapahit hingga kemerdekaan Indonesia.

Legenda, mitos, dan fakta berpadu dalam satu narasi besar tentang Gunung Kelud.Ia bukan sekadar gunung berapi, tetapi juga saksi perubahan zaman Nusantara

Editor : Anggi Septian A.P.
#hayam wuruk #gunung kelud #seokarno