BLITAR-Awal abad ke-20 menjadi babak kelam bagi masyarakat Pulau Jawa. Wabah pes, penyakit mematikan yang dibawa tikus dan kutu, menyapu pemukiman rakyat dengan cepat. Salah satu kisah tragis datang dari Desa Tlogo, tempat di mana keluarga sederhana kehilangan anak pertamanya akibat wabah.
Di tengah kehidupan pedesaan yang bergantung pada pasar, Pak Wongso, seorang petani, tetap menjalani rutinitasnya. Ia membawa jagung dan pisang hasil kebun ke pasar untuk ditukar dengan beras. Namun tanpa disadari, butiran beras yang ia bawa pulang juga menyimpan kutu pembawa penyakit. Inilah jalur tak terlihat penyebaran wabah pes yang menghantui Jawa kala itu.
Beberapa hari setelah beras tersimpan di rumah, tikus-tikus mulai mati satu per satu. Dari tubuh bangkai tikus, kutu berpindah ke inang baru dan menyebarkan bakteri pes dengan cepat. Hingga akhirnya, tragedi menimpa keluarga Wongso. Anak bungsunya jatuh sakit, mengalami demam tinggi dan pembengkakan misterius. Dalam waktu singkat, sang anak meninggal dunia.
“Awalnya kami kira hanya demam biasa, tapi kondisinya memburuk begitu cepat,” kenang seorang tetua desa, mengingat kembali cerita duka yang turun-temurun diwariskan.
Kematian anak bungsu Wongso menjadi tanda awal bahwa wabah telah melompat dari hewan ke manusia. Pihak kesehatan kolonial segera turun tangan. Seorang mantri mendatangi rumah keluarga itu, membawa peralatan sederhana untuk mengambil sampel limpa jenazah. Prosedur ini dilakukan untuk memastikan apakah benar pes telah menular ke manusia.
Pemakaman dilakukan dengan tergesa, berbeda dari tradisi biasanya. Protokol kesehatan memaksa jenazah dikuburkan cepat, dengan sedikit pelayat dan penuh kewaspadaan. Bagi keluarga Wongso dan warga desa, pengalaman ini sangat asing. Duka bercampur dengan ketakutan, sebab wabah kini bukan hanya cerita jauh, melainkan sudah hadir di depan mata.
Setelah kematian pertama, kasus serupa mulai bermunculan di desa lain. Laporan menunjukkan lonjakan drastis di wilayah sekitar, termasuk Desa Asinan dan daerah lain di bawah Keresidenan Jepara. Dalam waktu singkat, wabah pes menyebar hingga 214 kewedanan di Jawa. Data resmi mencatat, lebih dari 10 persen penduduk meninggal dunia hanya dalam kurun satu tahun.
Wabah pes tak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga mengubah tatanan sosial. Rakyat yang biasa hidup berdampingan dengan tikus tanpa rasa takut, kini menghadapi kenyataan pahit. Rumah-rumah dengan atap ijuk dan dinding bambu menjadi sarang ideal bagi tikus. Celah sempit yang dulu dianggap biasa, ternyata menjadi titik awal lahirnya malapetaka.
Pemerintah kolonial Hindia Belanda kemudian mengambil langkah tegas. Rumah-rumah dibongkar, atap diganti dengan genteng atau seng, dan setiap batang bambu harus ditutup rapat agar tidak menjadi tempat sarang tikus. Program perbaikan rumah ini menjadi salah satu upaya paling masif dalam sejarah kesehatan masyarakat Jawa.
Namun bagi keluarga Wongso, semua kebijakan itu datang terlambat. Mereka sudah kehilangan buah hati, korban pertama dari sebuah tragedi panjang.
“Bagi masyarakat desa, kematian anak itu bukan hanya duka keluarga. Itu menjadi tanda bahwa hidup mereka tidak lagi sama,” ujar seorang sejarawan lokal, menekankan dampak emosional wabah.
Tragedi Wongso kini menjadi simbol betapa rapuhnya kehidupan rakyat kecil saat berhadapan dengan wabah. Dari satu rumah, satu desa bisa tumbang. Dari satu desa, satu keresidenan bisa porak-poranda. Sejarah mencatat, pes tidak hanya merenggut nyawa, tapi juga merampas tradisi, kebersamaan, dan rasa aman.
Meski masa kelam itu telah berlalu lebih dari seabad, kisah ini tetap relevan. Ia mengingatkan bahwa wabah bukan sekadar penyakit, melainkan ujian besar bagi manusia untuk belajar menjaga lingkungan, rumah, dan kebersihan.
Keluarga Wongso hanyalah satu dari ribuan keluarga yang duka mereka tenggelam dalam statistik. Namun melalui kisah ini, wajah nyata dari tragedi wabah pes di Jawa kembali hadir: sebuah keluarga sederhana yang kehilangan anaknya di tengah badai sejarah.
Editor : Anggi Septian A.P.