Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Janji Manis Jepang pada Tentara PETA yang Berakhir Pengkhianatan

Anggi Septiani • Sabtu, 13 September 2025 | 06:00 WIB
Janji Manis Jepang pada Tentara PETA yang Berakhir Pengkhianatan
Janji Manis Jepang pada Tentara PETA yang Berakhir Pengkhianatan

BLITAR-Ketika Jepang masuk ke Indonesia pada 1942, rakyat menyambut mereka dengan penuh harapan. Jepang datang membawa propaganda sebagai “saudara tua” yang akan membebaskan bangsa Asia dari belenggu kolonialisme Barat. Namun, janji manis Jepang itu berubah menjadi pengkhianatan pahit yang dialami rakyat Indonesia, termasuk dalam pembentukan Tentara PETA.

Jepang mendirikan organisasi propaganda bernama Gerakan 3A. Slogannya sederhana: Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia. Dengan propaganda itu, Jepang berusaha meraih simpati rakyat. Mereka menjanjikan kemerdekaan jika Indonesia mau membantu perang Asia Timur Raya.

Namun, kenyataan jauh dari yang diharapkan. Alih-alih membebaskan rakyat, Jepang justru menindas lebih keras. Romusha, kerja paksa massal, dijalankan tanpa belas kasih. Rakyat dipaksa bekerja membangun jalan, jembatan, hingga kubu pertahanan Jepang tanpa upah dan makanan layak. Ribuan orang meninggal akibat kelaparan, penyakit, dan kelelahan.

Di sisi lain, Jepang membentuk Tentara PETA (Pembela Tanah Air) pada 3 Oktober 1943. Secara resmi, PETA dibentuk untuk menjaga keamanan dalam negeri. Tetapi sejatinya, ini adalah siasat Jepang agar punya bala tentara tambahan menghadapi sekutu.

Menurut sejarawan Rusdi Husein, langkah ini adalah strategi licik. Jepang melatih pemuda Indonesia dengan disiplin militer modern. Senjata, taktik perang, hingga doktrin diberikan. “Ironisnya, Jepang tidak menyadari bahwa pendidikan militer itu justru menumbuhkan semangat nasionalisme,” ungkapnya.

Awalnya, banyak pemuda bergabung karena percaya pada janji kemerdekaan Jepang. Namun, mereka segera sadar bahwa semua hanya kedok. PETA bukanlah jalan menuju kebebasan, melainkan alat Jepang mempertahankan kekuasaan.

Puncak kekecewaan itu meledak di Blitar. Pada 14 Februari 1945, seorang perwira muda PETA bernama Supriyadi memimpin pemberontakan melawan Jepang. Ia bersama pasukannya menyerbu markas Jepang di Blitar. Sayangnya, perlawanan itu gagal karena Jepang sudah mengetahui rencana sebelumnya.

Peristiwa Blitar menandai betapa janji manis Jepang hanyalah pengkhianatan. Mereka yang melawan langsung ditangkap, disiksa, bahkan dihukum mati. Beberapa prajurit PETA yang menyerah setelah dibujuk pun tetap menerima hukuman berat. Jepang tidak pernah benar-benar berniat memberi kemerdekaan.

Letkol Kusuma dari Pusat Sejarah TNI pernah menjelaskan, propaganda Jepang hanyalah ilusi untuk mengendalikan rakyat Indonesia. “Romusha adalah bukti terbesar bahwa Jepang tidak pernah memikirkan kesejahteraan rakyat. Mereka hanya peduli pada kemenangan perang,” jelasnya.

Padahal, semangat kemerdekaan di hati rakyat sudah tak terbendung. Justru berkat latihan militer Jepang, para pemuda Indonesia memiliki bekal untuk membentuk kekuatan bersenjata setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Dari situlah lahir cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Tragisnya, rakyat yang percaya janji Jepang harus menanggung penderitaan luar biasa. Jutaan orang kehilangan keluarga akibat romusha, kelaparan, hingga penindasan. Luka sejarah itu masih membekas hingga sekarang.

Meski begitu, ada sisi lain dari “pengkhianatan” Jepang ini. Tanpa mereka sadari, pendidikan militer yang diberikan justru memperkuat semangat perlawanan. Para pemuda yang kecewa pada janji palsu akhirnya bangkit melawan.

Sejarawan menyebut, Jepang datang dengan wajah manis, tetapi pergi meninggalkan jejak penuh darah. Propaganda mereka gagal total karena rakyat Indonesia justru semakin sadar pentingnya meraih kemerdekaan dengan tangan sendiri, bukan mengandalkan janji penjajah baru.

Kini, sejarah mencatat PETA sebagai saksi nyata bagaimana janji manis Jepang berubah menjadi bumerang. Dari sinilah lahir kesadaran kolektif bangsa Indonesia bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan, bukan diberi.

Janji manis Jepang boleh saja memikat, tapi pengkhianatan mereka justru melahirkan generasi pejuang yang siap merebut kemerdekaan. Dan di situlah, ironi sejarah Indonesia menemukan maknanya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#ROMUSHA #Propaganda 3A #PETA #jepang