BLITAR-“Bagaimana mungkin kita disebut pembela tanah air, sementara rakyat sendiri dipaksa menderita?” begitu keluh salah satu mantan anggota PETA, seperti dituturkan dalam dokumentasi sejarah.
Supriyadi dan rekan-rekannya kemudian merencanakan pemberontakan. Blitar dipilih sebagai lokasi karena menjadi basis kuat PETA. Tengah malam, mereka menyerang tangsi Jepang dengan tekad membebaskan rakyat dari penindasan.
Sayangnya, rencana itu bocor. Jepang lebih dulu melakukan antisipasi. Pertempuran tak seimbang pun pecah. Banyak tentara PETA ditangkap, sementara Supriyadi justru menghilang tanpa jejak hingga kini.
Letkol Kusuma, Kepala Bidang Dokumentasi Pusat Sejarah TNI, menyebut pemberontakan ini sebagai momentum penting. “Meski gagal secara militer, Pemberontakan PETA Blitar menunjukkan bahwa pemuda Indonesia sudah punya keberanian melawan Jepang secara terbuka,” ujarnya.
Nasib Supriyadi hingga kini masih menjadi misteri. Ada yang meyakini ia gugur di medan pertempuran, ada pula yang menyebut ia dieksekusi secara rahasia oleh Jepang. Ada juga cerita bahwa ia sempat melarikan diri dan bersembunyi di Jawa Barat. Misteri inilah yang membuat nama Supriyadi tetap lekat dalam ingatan sejarah.
Meski gagal, pemberontakan PETA Blitar memberi pesan kuat: rakyat Indonesia tak bisa lagi ditipu oleh janji kemerdekaan palsu. Aksi heroik itu membakar semangat perlawanan di berbagai daerah, hingga akhirnya meledak pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Fakta sejarah mencatat, sebagian besar anggota TNI pertama berasal dari mantan tentara PETA. Pengalaman mereka melawan Jepang, termasuk di Blitar, menjadi modal penting bagi pertahanan Indonesia setelah merdeka.
Bahkan, semangat pemberontakan PETA Blitar masih diperingati hingga kini. Setiap 14 Februari, rakyat Blitar mengenang peristiwa itu sebagai simbol keberanian melawan penindasan. Nama Supriyadi pun diabadikan sebagai pahlawan nasional, meski jasadnya tak pernah ditemukan.
Sejarawan Rusdi Husein menegaskan, “Pemberontakan PETA Blitar adalah bukti bahwa bangsa ini siap merdeka. Meskipun Jepang masih berkuasa saat itu, roh perlawanan sudah tak terbendung lagi.”
Kisah ini juga menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda. Bahwa kemerdekaan tidak jatuh begitu saja, melainkan hasil dari keberanian melawan penindasan, meski dengan risiko nyawa.
Blitar kini tak hanya dikenal dengan Candi Penataran, tapi juga sebagai saksi sejarah pemberontakan yang mengubah arah perjuangan bangsa. Dari kota inilah, suara perlawanan bergema, menandai lahirnya semangat baru menuju Indonesia merdeka.
Editor : Anggi Septian A.P.