BLITAR-Di tengah hiruk pikuk Kota Bogor, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi lahirnya pasukan pertama Indonesia. Museum PETA Bogor menyimpan jejak perjuangan Tentara Pembela Tanah Air, dari pembentukan hingga kiprahnya dalam jalan menuju kemerdekaan.
Bangunan ini awalnya didirikan pada 1745 sebagai markas militer Belanda. Saat kekuasaan berpindah ke tangan Jepang, gedung tersebut beralih fungsi menjadi pusat pelatihan Tentara PETA pada 1943. Di sinilah para pemuda Indonesia mendapat pendidikan militer pertama kali, termasuk tokoh penting seperti Supriyadi dan Sudirman.
Museum PETA Bogor diresmikan pada 18 Desember 1995 oleh Presiden Soeharto. Gagasannya datang dari Yayasan Pembela Tanah Air (YAPETA), yang didirikan putra-putri mantan tentara PETA. Mereka ingin agar jasa perjuangan orang tua mereka tidak hilang ditelan waktu.
“Dengan monumen ini, kami ingin menghormati jasa para pejuang. Wawasan kebangsaan lahir dari penghormatan terhadap sejarah,” kata Tonso Prapto, putra salah satu anggota PETA, dalam sebuah wawancara dokumentasi.
Memasuki halaman museum, pengunjung langsung disambut dua monumen besar: Jenderal Sudirman dan Supriyadi. Keduanya melambangkan dua sisi penting PETA, yakni kepemimpinan militer dan semangat perlawanan.
Di dalam museum, terdapat 14 diorama yang menggambarkan perjalanan PETA. Mulai dari perekrutan pemuda, pelatihan militer di Bogor, hingga peran mereka menjelang proklamasi kemerdekaan. Setiap diorama dibuat detail, sehingga pengunjung seolah diajak kembali ke masa 1940-an.
Tak hanya itu, lebih dari 300 koleksi asli dipamerkan. Ada senjata laras panjang, pistol, mortir, hingga perlengkapan pribadi tentara PETA. Koleksi ini menjadi bukti nyata bahwa perjuangan mereka bukan sekadar cerita, melainkan pengorbanan yang benar-benar terjadi.
Letkol Kusuma dari Pusat Sejarah TNI menilai, keberadaan museum ini penting bagi generasi muda. “Museum PETA Bogor bukan hanya tempat wisata, tetapi pusat edukasi untuk memahami bagaimana bangsa ini meraih kemerdekaan,” ujarnya.
Selain koleksi militer, museum juga menyimpan kisah keluarga pejuang. Salah satunya adalah Latif Hendraningrat, prajurit PETA yang mengibarkan bendera merah putih pada 17 Agustus 1945. Putrinya, Tuning Sukobagio, mengenang bagaimana ayahnya menjaga Bung Karno saat proklamasi. “Ayah selalu waspada, matanya tak berhenti melihat ke kanan-kiri. Ia takut ada serangan yang bisa menggagalkan kemerdekaan,” kisahnya.
Cerita-cerita personal inilah yang membuat Museum PETA lebih dari sekadar ruang pamer. Ia adalah tempat di mana kenangan para pejuang hidup kembali, sekaligus mengajarkan nilai disiplin, keberanian, dan cinta tanah air.
Dengan luas area sekitar 13,7 hektare, museum ini juga memiliki lapangan bersejarah tempat latihan fisik dan militer para pemuda PETA. Tempat ini dahulu menjadi saksi bagaimana ribuan pemuda digembleng untuk menjadi tentara, meski awalnya hanya demi kepentingan Jepang.
Namun sejarah membuktikan, pelatihan itu justru menjadi bekal berharga bagi bangsa Indonesia. Mantan anggota PETA kemudian banyak yang bergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Kini, Museum PETA Bogor bukan hanya destinasi sejarah, tetapi juga destinasi wisata edukasi. Banyak pelajar, mahasiswa, hingga peneliti datang untuk belajar langsung tentang perjuangan bangsa. Dengan tiket yang terjangkau, museum ini terbuka untuk umum dan menjadi warisan sejarah yang harus terus dijaga.
Sejarah memang tak boleh dilupakan. Melalui Museum PETA Bogor, generasi muda diajak untuk menghargai pengorbanan para pejuang. Bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari keberanian dan keteguhan hati, yang sebagian jejaknya kini tersimpan di museum ini.
Editor : Anggi Septian A.P.