BLITAR – Gunung Pegat di Kecamatan Serengat, Kabupaten Blitar, tak hanya menawarkan panorama alam. Di balik hutan bambu dan jalur setapaknya, gunung ini menyimpan jejak sejarah Majapahit yang masih bisa dilihat hingga sekarang.
Bukit Pertapaan, salah satu puncak Gunung Pegat, dikenal masyarakat sebagai kawasan petilasan leluhur. Di tempat ini terdapat batu bata merah kuno, arca pecahan, hingga struktur candi yang diyakini berasal dari masa kejayaan Majapahit. Penemuan ini menjadi bukti bahwa Gunung Pegat bukan sekadar tempat wisata, tetapi juga situs bersejarah.
Seorang pengunjung, Bhakti Adhi, mengaku terkejut melihat sisa-sisa peninggalan tersebut. “Saya lihat ada batu bata merah yang bentuknya khas peninggalan Majapahit. Bahkan ada arca Dwarapala yang mirip dengan di Candi Penataran. Sayang kalau tidak dilestarikan,” ujarnya.
Keberadaan batu bata merah memang sering dikaitkan dengan kerajaan besar di Jawa. Sejarawan menyebut bahwa Majapahit banyak menggunakan bata merah dalam pembangunan candi dan petilasan. Hal serupa terlihat jelas di Gunung Pegat, meski kondisinya sudah tidak utuh lagi.
Selain batu bata, pecahan arca juga masih ditemukan. Salah satunya adalah bagian kepala arca yang mirip dengan Dwarapala, patung penjaga gerbang candi. Warga sekitar percaya arca itu dulunya berdiri tegak di kawasan pertapaan. Kini, bagian tubuhnya sudah tak utuh, kemungkinan besar hilang atau dicuri.
Misteri inilah yang membuat Gunung Pegat terasa berbeda. Tidak hanya menjadi jalur trekking singkat yang bisa ditempuh 10 menit dari parkiran, tetapi juga menjadi saksi bisu peradaban masa lalu. Banyak pengunjung yang datang bukan hanya untuk berwisata, melainkan juga untuk merasakan aura sejarah dan spiritual.
Menurut cerita masyarakat, area Bukit Pertapaan dahulu digunakan sebagai tempat lelaku. Papan peringatan di lokasi bahkan menegaskan larangan tertentu, seperti bagi perempuan yang sedang berhalangan untuk naik. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini masih dianggap suci hingga sekarang.
Fakta unik lain adalah keberadaan struktur batu besar yang tersusun rapi seperti candi bubrah. Meskipun sudah hancur, bentuknya masih bisa dikenali. Beberapa ukiran naga dan motif klasik Jawa juga terlihat samar di permukaan batu. Detail ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta sejarah dan budaya.
Namun, kondisi peninggalan tersebut cukup memprihatinkan. Minimnya pengawasan membuat banyak arca rawan hilang. Kasus pencurian benda purbakala di candi-candi Jawa menjadi pelajaran penting. Warga berharap pemerintah lebih serius menjaga Gunung Pegat sebagai cagar budaya.
“Nilai historisnya jauh lebih besar daripada sekadar harga jual. Kalau peninggalan ini hilang, kita kehilangan identitas sebagai bangsa,” ujar seorang tokoh masyarakat Bagelenan.
Selain nilai sejarah, Gunung Pegat juga memiliki daya tarik alam yang mendukung. Hutan bambu “pring ori” dengan duri tajam tumbuh lebat di jalurnya, memberikan suasana mistis sekaligus unik. Ditambah dengan pemandangan Desa Bagelenan dari ketinggian, pengalaman wisata di sini semakin lengkap.
Meski fasilitas wisata seperti warung kopi dan pujasera sempat mangkrak, semangat warga untuk menjaga kawasan ini tidak padam. Mereka tetap membersihkan jalur, menyalakan lampu penerangan, dan merawat area pertapaan. Dengan begitu, pengunjung masih bisa menikmati keindahan sekaligus belajar tentang sejarah.
Gunung Pegat menjadi contoh bagaimana wisata alam, religi, dan sejarah bisa berpadu. Jika dikelola serius, kawasan ini berpotensi besar menjadi destinasi unggulan Blitar setelah Candi Penataran.
Kini, setiap batu bata merah dan arca pecahan di Bukit Pertapaan bukan hanya benda mati, melainkan pengingat kejayaan Majapahit. Fakta unik inilah yang membuat Gunung Pegat tak bisa dipandang sebelah mata.
Bagi pengunjung yang mencari pengalaman berbeda, Gunung Pegat menawarkan lebih dari sekadar pemandangan. Ia menyajikan perjalanan ke masa lalu, ke zaman ketika Majapahit masih berdiri megah di tanah Jawa.
Editor : Anggi Septian A.P.