BLITAR - Gunung Merbabu di Jawa Tengah bukan hanya populer karena panorama sabananya yang indah. Gunung ini juga menyimpan banyak cerita mistis, terutama saat pendakian dilakukan di Malam Suro, hari yang dipercaya keramat oleh masyarakat Jawa.
Salah satu kisah yang bikin bulu kuduk merinding datang dari Andi, seorang pendaki yang nekat naik Merbabu bersama dua rekannya pada tahun 2003.
Mereka tidak tahu jika malam pendakian itu bertepatan dengan Malam Sabtu Suro. Hasilnya, perjalanan mereka penuh teror gaib.
Bagi masyarakat Jawa, Malam Suro adalah waktu sakral. Banyak orang memilih berdiam diri, melakukan tirakat, atau menghindari aktivitas berisiko.
Pasalnya, diyakini pada malam itu batas antara alam manusia dan alam gaib melebur tipis. Tak heran, pendakian di Malam Suro sering dianggap tabu karena dipercaya bisa memancing gangguan makhluk halus.
Namun, Andi dan teman-temannya tak mengindahkan hal tersebut. Mereka tetap melanjutkan niat mendaki, bahkan salah satunya justru mencari benda pusaka di puncak gunung.
Sejak awal perjalanan, Budi—salah satu dari tiga pendaki—terlihat gelisah. Ia menyebut ada barang yang tertinggal dan harus dicari. Belakangan diketahui, ia mengincar sebuah keris kecil yang diyakini tersimpan di Gunung Merbabu.
Ambisi itu justru membawa petaka. Sejumlah kejadian aneh mulai terjadi: tenda mereka diguncang, sosok kaki gaib muncul, hingga serangan hewan misterius menyerupai macan. Anehnya, gangguan itu selalu muncul saat Budi menggenggam keris yang ditemukannya.
Andi menceritakan, gangguan paling menyeramkan terjadi ketika Budi menatap kosong ke arah pepohonan. Saat ia ikut menoleh, Andi mengaku melihat sosok wanita berambut panjang bergelantungan di dahan pohon, mengayunkan kaki sambil menatap tajam.
“Rasanya badan saya gemetar semua. Itu malam paling mencekam seumur hidup saya,” kata Andi dalam kesaksiannya yang kini viral di YouTube.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan masyarakat bahwa Malam Suro memang bukan waktu yang tepat untuk mendaki gunung, apalagi dengan niat mencari pusaka.
Ketegangan berujung perpisahan. Andi dan Wahyu memutuskan turun, sedangkan Budi tetap memilih tinggal untuk mencari pusaka. Sejak malam itu, Budi tidak pernah kembali.
Hilangnya Budi menambah panjang daftar misteri Gunung Merbabu yang kerap dikaitkan dengan kisah gaib.
Dalam tradisi Jawa, Suro bukan hanya bulan pertama dalam kalender Jawa, tetapi juga saat untuk introspeksi diri. Itu sebabnya, orang Jawa biasanya melakukan tapa brata, bukan aktivitas hura-hura atau petualangan berbahaya.
Kisah pendaki ini seolah menjadi pengingat bahwa gunung bukan sekadar tempat wisata. Ada nilai budaya dan spiritual yang harus dihormati.
Andi sendiri mengaku menyesal. “Kalau saya tahu itu Malam Suro, mungkin saya tidak akan ikut. Saya hanya ingin pulang, tapi justru kehilangan sahabat,” ungkapnya.
Gunung-gunung di Jawa memang kerap dianggap sebagai tempat sakral. Banyak legenda menyebut puncak gunung sebagai tempat bersemayamnya para leluhur dan makhluk halus.
Tak heran, hingga kini masih banyak pantangan yang dipercaya pendaki, salah satunya larangan mendaki di Malam Suro.
Editor : Anggi Septian A.P.