BLITAR - Gunung Welirang di perbatasan Malang dan Mojokerto bukan hanya destinasi wisata pendakian. Di balik keindahan pemandangannya, gunung berketinggian 3.156 meter ini menyimpan kisah perjuangan warga lokal yang menggantungkan hidup sebagai penambang belerang.
Setiap hari, puluhan penambang naik turun jalur terjal membawa bongkahan belerang dari kawah. Beban di punggung mereka bisa mencapai 50 hingga 70 kilogram.
Pekerjaan itu bukan hanya melelahkan, tetapi juga berisiko tinggi. Asap belerang yang pekat bisa mengganggu pernapasan, bahkan membahayakan nyawa jika terhirup terlalu lama.
“Kalau tidak kerja, dapur tidak ngebul. Meski berat, ini satu-satunya cara saya menafkahi keluarga,” ujar salah satu penambang kepada tim wisata.
Para penambang biasanya berangkat dini hari. Dengan peralatan sederhana, mereka memecah batuan belerang menggunakan linggis dan palu. Setelah itu, bongkahan dimasukkan ke keranjang bambu yang digendong di punggung.
Medan menuju bawah gunung penuh tanjakan dan bebatuan tajam. Tak jarang, penambang harus berhenti sejenak untuk mengatur napas. Meski begitu, mereka tetap bertahan.
Belerang yang dikumpulkan dijual ke pengepul dengan harga yang tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Rata-rata mereka hanya mendapat Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu per hari.
Kondisi ini sering menuai perhatian wisatawan maupun fotografer yang mendaki Welirang. Banyak yang terenyuh melihat kerasnya perjuangan warga lokal.
“Pekerjaan ini memang berat, tapi sudah dilakukan turun-temurun. Kami hanya berharap harga belerang bisa lebih adil,” tambah penambang lainnya.
Selain sebagai sumber penghasilan, belerang dari Gunung Welirang juga memiliki nilai ekonomi penting. Batu belerang dipakai untuk kebutuhan industri, kosmetik, hingga obat-obatan.
Namun, minimnya alat pelindung membuat para penambang rentan terkena penyakit paru-paru. Beberapa di antaranya bahkan mengaku sering batuk dan sesak napas akibat paparan asap.
Fenomena ini memperlihatkan wajah lain dari Gunung Welirang. Di balik pesona alamnya yang menawan bagi pendaki, ada kerja keras manusia yang bertaruh nyawa demi bertahan hidup.
Bagi wisatawan, bertemu para penambang di jalur pendakian seringkali menjadi pengalaman yang membuka mata. Mereka bukan sekadar pemandangan tambahan, melainkan potret nyata kehidupan.
Gunung Welirang sendiri menjadi tujuan favorit pendaki karena jalurnya yang menantang dan pemandangan kawah belerang yang eksotis. Tetapi, di sana pula terlihat kontras: wisata dan kerja keras berjalan berdampingan.
Kisah para penambang belerang menjadi pengingat bahwa keindahan alam seringkali hadir bersama pengorbanan manusia. Perjuangan mereka layak mendapat perhatian lebih, baik dari pemerintah maupun wisatawan.
Jadi, ketika Anda mendaki Gunung Welirang, jangan lupa hargai keringat para penambang yang tiap hari mengangkat bebatuan belerang demi kehidupan.
Editor : Anggi Septian A.P.