BLITAR - Sejarah Majapahit tidak hanya tentang peperangan dan perebutan tahta, tetapi juga kisah kemanusiaan. Salah satu cerita yang jarang diangkat adalah Piagam Kudadu, bukti nyata balas budi Raden Wijaya kepada rakyat kecil yang pernah menolongnya saat berada di titik terendah.
Kisah ini bermula pada tahun 1292, ketika Kerajaan Singasari runtuh akibat serangan Jayakatwang dari Kediri. Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara, terpaksa melarikan diri karena kalah jumlah. Bersama sedikit pengikutnya, ia dikejar pasukan Kediri hingga nyaris binasa.
Dalam keadaan terjepit, Wijaya tiba di sebuah desa terpencil bernama Kudadu, yang berada di kawasan Blambangan.
Di sanalah seorang kepala desa dengan keberanian besar memberikan perlindungan. Meski tahu risikonya sangat besar, ia tetap menyembunyikan Wijaya dari pasukan Kediri. Pertolongan itu menjadi titik balik sejarah.
Dari Kudadu, Wijaya berhasil melanjutkan pelariannya ke Madura, meminta bantuan Arya Wiraraja, dan kemudian bangkit untuk merebut tahta. Tanpa Kudadu, bisa jadi kisah Majapahit tidak pernah tercatat dalam sejarah Nusantara.
Tahun 1294, setelah Majapahit resmi berdiri dan Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana, ia tidak melupakan jasa rakyat kecil Kudadu. Sebagai bentuk balas budi, ia mengeluarkan sebuah prasasti yang kini dikenal sebagai Piagam Kudadu.
Isi piagam itu menegaskan bahwa Kudadu diberi anugerah khusus sebagai desa perdikan. Artinya, penduduknya bebas dari pajak kerajaan dan mendapat perlindungan istimewa. Keputusan ini menjadi penghormatan luar biasa, karena biasanya hanya desa-desa tertentu yang bisa mendapat status perdikan.
Piagam Kudadu sekaligus menjadi bukti bahwa Raden Wijaya bukan sekadar raja yang lihai dalam siasat politik dan perang, tetapi juga pemimpin yang tahu berterima kasih. Ia menegaskan bahwa kekuasaan besar lahir berkat dukungan rakyat kecil, bukan hanya dari strategi militer.
Sejarawan menilai Piagam Kudadu adalah dokumen berharga. Bukan hanya karena mencatat awal berdirinya Majapahit, tetapi juga menunjukkan sisi kemanusiaan dalam sejarah kerajaan besar.
Rakyat biasa ternyata punya peran penting dalam lahirnya sebuah dinasti yang kelak menguasai hampir seluruh Nusantara.
Kini, Piagam Kudadu masih sering disebut dalam berbagai kajian sejarah. Banyak yang menganggapnya sebagai pengingat bahwa kepemimpinan sejati adalah yang tidak melupakan jasa orang kecil.
Bagi masyarakat modern, kisah ini bisa jadi inspirasi. Di tengah gemerlap kekuasaan dan politik, penghargaan terhadap rakyat jelata tetap menjadi fondasi utama.
Apa yang dilakukan Raden Wijaya di Kudadu menunjukkan bahwa sejarah besar bisa dimulai dari tindakan sederhana: keberanian seorang kepala desa menolong pemimpin yang terpuruk.
Majapahit memang dikenal karena kejayaannya di bawah Hayam Wuruk dan Gajah Mada, namun awal mula kerajaan ini berdiri justru berutang besar pada Kudadu. Tanpa desa kecil itu, sejarah Nusantara mungkin akan berbeda.
Editor : Anggi Septian A.P.