BLITAR-Candi tersembunyi di bawah pohon tua Gunung Lawu kembali menjadi sorotan.Situs Pelanggatan di Karanganyar, Jawa Tengah, disebut-sebut sebagai petilasan Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit.
Lokasi ini berada tak jauh dari Candi Sukuh dan Candi Ceto, dua candi besar yang lebih dulu populer di lereng barat Gunung Lawu.
Namun, berbeda dari keduanya, Situs Pelanggatan tampak lebih sederhana dan terkesan misterius.
Banyak warga percaya bahwa situs ini dulunya adalah candi megah.
Sayangnya, bangunan utamanya kini hanya menyisakan batuan berelief yang tertelan akar pohon tua.
Juru pelihara situs bahkan menyebutkan mitos unik soal terbengkalainya bangunan ini.“Konon, pengerjaan candi berhenti tiba-tiba karena ketahuan manusia. Sejak itu, pembangunan tidak pernah dilanjutkan,” ungkap seorang penjaga situs kepada pengunjung.
Cerita ini selaras dengan tradisi tutur masyarakat Jawa yang kerap mengaitkan pembangunan candi dengan unsur mistis.
Hal itu pula yang membuat Situs Pelanggatan kerap dianggap angker oleh warga sekitar.
Sejarawan Sukarno Kaatmojo menafsirkan adanya sengkalan memet pada relief di situs tersebut.Ia menyebut angka tahun 1454 Masehi, yang bertepatan dengan masa akhir kejayaan Majapahit.
Temuan relief bangsawan bertopi tekes, simbol khas tokoh Panji, juga semakin memperkuat dugaan bahwa situs ini terkait erat dengan tradisi budaya Jawa kuno.
Beberapa arkeolog bahkan berpendapat bahwa Situs Pelanggatan bisa jadi merupakan sebuah kadewaguruan atau tempat pendidikan agama pada masa lampau.
Namun, di balik tafsir akademis itu, mitos mengenai Prabu Brawijaya lebih populer di masyarakat.Kisah lisan menyebutkan sang raja mengasingkan diri ke Gunung Lawu setelah keruntuhan Majapahit.
Brawijaya diyakini sempat mendirikan pasanggrahan di sejumlah lokasi, termasuk Candi Ceto dan Situs Pelanggatan.
Mitos ini pula yang memunculkan anggapan bahwa candi di bawah pohon tua tersebut adalah petilasan sang raja.
Gunung Lawu memang sarat kisah mistis.
Selain pasar setan dan bulak peperangan, keberadaan Situs Pelanggatan menambah daftar panjang misteri di gunung setinggi 3.265 mdpl itu.
Dalam kitab Tantu Panggelaran, Gunung Lawu disebut sebagai “pematah kutukan”.
Dikisahkan, para dewa menjadikan Lawu sebagai pusat ritual ruwatan untuk menetralisasi energi negatif Batara Kala.
Tak heran jika hingga kini, Lawu selalu dikaitkan dengan hal-hal berbau sakral.
Bagi sebagian orang, naik gunung ini bukan sekadar mendaki, melainkan juga perjalanan spiritual.
Situs Pelanggatan sendiri tetap terawat meski minim pengunjung.
Keberadaannya diapit pepohonan rindang membuat suasananya terasa sejuk sekaligus mistis.
Beberapa relief yang masih tersisa menampilkan gambaran pasukan bersenjata dan bangunan bertingkat.
Ini memperlihatkan bahwa situs tersebut dulunya memiliki struktur kompleks yang cukup megah.
Meski begitu, banyak detail yang hilang akibat faktor alam dan waktu.
Arkeolog masih kesulitan memastikan fungsi asli situs karena minimnya prasasti yang jelas.
Satu-satunya prasasti yang ditemukan hanya menyebut nama Balangga Dawang dan Hyang Punundhu.
Dari situlah, nama Pelanggatan diduga berasal.
Di luar sisi akademis, Situs Pelanggatan telah memberi warna tersendiri pada legenda Gunung Lawu.
Kisahnya yang bersinggungan dengan Prabu Brawijaya membuatnya tak pernah lepas dari perbincangan.
Bagi masyarakat lokal, percaya atau tidak, cerita ini tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya.
Situs Pelanggatan menjadi bukti bahwa sejarah, mitos, dan spiritualitas di Gunung Lawu saling bertaut erat.
Mungkin benar, sebagaimana kata seorang budayawan, “Gunung Lawu adalah gunung yang memelihara ingatan kolektif orang Jawa.”
Dan Situs Pelanggatan adalah salah satu pintu kecil untuk membacanya.
Editor : Anggi Septian A.P.