BLITAR-Gunung Lawu tak hanya dikenal sebagai gunung keramat penuh mitos. Lerengnya juga menyimpan jejak sejarah penting dari masa Majapahit. Salah satunya adalah Situs Pelanggatan, sebuah kompleks candi kecil yang kini hampir hilang ditelan waktu.
Situs Pelanggatan terletak di Karanganyar, Jawa Tengah, tak jauh dari Candi Sukuh dan Candi Ceto. Meski kurang populer, keberadaan situs ini penting karena diyakini terkait dengan jejak peradaban Majapahit di masa akhir.
Di situs ini, pengunjung akan menemukan susunan batu berelief yang menunjukkan ciri khas arsitektur masa klasik. Menariknya, bangunan utama situs tersebut kini nyaris tertutup akar pohon tua raksasa. Bagian batu candi menyembul di sela-sela akar, seolah menegaskan bahwa peninggalan ini masih bertahan meski telah digerus waktu.
Arkeolog menemukan sejumlah artefak penting di Situs Pelanggatan. Salah satunya adalah pecahan Yoni, simbol kuat dari pemujaan Hindu-Siwa. Ada pula relief yang menggambarkan bangsawan dan pasukan, bahkan sebuah sengkalan memet atau penanda tahun. Dari sengkalan itu, sejarawan Sukarno Kaatmojo menafsirkannya sebagai tahun 1376 Saka atau 1454 Masehi, masa akhir Majapahit.
“Relief di teras dua sangat menarik. Ada figur bangsawan bertopi tekes yang bisa jadi adalah tokoh Panji. Ini menunjukkan kuatnya tradisi kisah Panji di masa Majapahit,” ujar seorang arkeolog lokal, Heri Purwanto.
Keberadaan relief Panji bukan hal sepele. Kisah Panji merupakan simbol budaya Majapahit yang banyak dipahatkan di candi-candi Jawa, Bali, hingga Kamboja. Dengan demikian, Situs Pelanggatan punya peran penting dalam menyebarkan tradisi Panji.
Selain relief Panji, ditemukan pula gambaran bangunan bertingkat di salah satu teras. Menurut para ahli, potret itu sesuai dengan konsep karesian, yaitu tempat tinggal para resi dan pertapa di masa Jawa Kuno. Ada pula dugaan bahwa situs ini dulunya merupakan kadewaguruan, pusat pendidikan agama Hindu-Siwa.
Bukti lain adalah adanya prasasti kecil yang menyebut dua nama penting: Balangga Dawang dan Hyang Punundhu. Dari nama inilah wilayah tersebut kemudian dikenal sebagai Pelanggatan. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa situs ini tidak hanya tempat sakral, tapi juga punya catatan administratif pada zamannya.
Gunung Lawu sendiri sejak lama dipandang sakral oleh masyarakat Jawa. Nama Lawu disebut dalam kitab Tantu Panggelaran sebagai Katong, bagian dari Gunung Mahameru yang dibawa para dewa ke Jawa. Karena kesakralan itulah, banyak candi dibangun di lerengnya, termasuk Candi Sukuh, Candi Ceto, dan Situs Pelanggatan.
Peran Gunung Lawu sebagai pusat spiritual tampak jelas. Relief dan naskah kuno menunjukkan bahwa gunung ini dianggap sebagai tempat ruwatan. Kisah wayang Panji, Bima Suarga, hingga Sudamala banyak dipahatkan sebagai simbol penyucian dan pembebasan dari kutukan.
“Gunung Lawu itu istimewa. Ia bukan sekadar gunung, tapi pusat kosmologi orang Jawa. Situs Pelanggatan bagian dari narasi besar itu,” ungkap Sukarno Kaatmojo dalam sebuah kajian arkeologi.
Namun, data tentang Situs Pelanggatan masih sangat minim. Ekskavasi baru dilakukan sebagian, dan sebagian besar struktur telah rusak. Pohon besar yang menutupi batu candi seakan menjadi saksi bisu bagaimana situs ini dilupakan.
Meski begitu, keberadaan Situs Pelanggatan tetap penting dalam memahami peradaban Majapahit di lereng Gunung Lawu. Dari artefak, relief, hingga tradisi tutur, semua mengarah pada kesimpulan bahwa situs ini punya kaitan erat dengan kehidupan religius dan budaya pada abad ke-15.
Hari ini, Situs Pelanggatan lebih banyak dikunjungi peziarah dan pencinta sejarah. Letaknya yang tersembunyi membuatnya terasa eksklusif, sekaligus menambah aura mistis. Apalagi, banyak penduduk setempat percaya situs ini belum selesai dibangun karena alasan spiritual.
Di balik mitos itu, Situs Pelanggatan tetaplah bagian dari warisan sejarah Jawa. Ia menjadi saksi bisu betapa Majapahit di masa senjanya masih berusaha meninggalkan jejak peradaban di Gunung Lawu.
Dengan segala misteri dan keterbatasan datanya, Situs Pelanggatan mengingatkan kita bahwa sejarah tak selalu utuh. Ada bagian yang hilang, ada yang ditelan alam, dan ada yang hidup dalam cerita rakyat. Namun semua itu tetap berharga untuk dikenang sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.
Editor : Anggi Septian A.P.