Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ritual Ruwatan di Gunung Lawu dan Kesakralan Situs Pelanggatan

Anggi Septiani • Senin, 15 September 2025 | 04:30 WIB
Ritual Ruwatan di Gunung Lawu dan Kesakralan Situs Pelanggatan
Ritual Ruwatan di Gunung Lawu dan Kesakralan Situs Pelanggatan

BLITAR-Gunung Lawu sejak lama dipercaya sebagai salah satu gunung paling sakral di Pulau Jawa. Kesakralannya tak hanya muncul dari mitos pendaki atau cerita rakyat, tetapi juga dari tradisi ritual kuno yang meninggalkan jejak di sejumlah situs, termasuk Situs Pelanggatan di Karanganyar.

Situs Pelanggatan memang tidak sebesar Candi Sukuh atau Candi Ceto. Namun, situs ini menyimpan misteri ritual yang erat kaitannya dengan tradisi ruwatan di masa Majapahit. Relief dan artefak yang ditemukan memberi petunjuk bahwa lereng Lawu menjadi pusat upacara keagamaan yang penting bagi masyarakat Jawa Kuno.

Ruwatan sendiri adalah ritual penyucian atau pelepasan dari kutukan. Dalam kitab Tantu Panggelaran, Gunung Lawu disebut sebagai tempat para dewa meruwat Batara Kala Rudra yang dikutuk menjadi pemangsa manusia. Melalui pertunjukan wayang kulit dan drama rakyat, kutukan itu berhasil dinetralisir. Sejak itulah Gunung Lawu dianggap sebagai pusat ruwatan.

Di Situs Pelanggatan, ditemukan relief yang menggambarkan tokoh Panji dengan topi tekes. Tokoh Panji sendiri erat kaitannya dengan lakon-lakon ruwatan. Kehadirannya di relief memperkuat dugaan bahwa situs ini merupakan tempat pelaksanaan ritual sakral.

“Relief Panji bukan sekadar dekorasi. Ia bagian dari tradisi ruwatan yang menjadi ciri khas candi-candi di masa akhir Majapahit,” ujar arkeolog Heri Purwanto.

Selain Panji, ada juga relief lain yang menunjukkan bangsawan diiringi pasukan, serta sengkalan memet bergambar manusia berkepala gajah menelan bulan. Sengkalannya menunjukkan tahun 1454 Masehi, tepat pada masa senja Majapahit. Tahun itu semakin menegaskan bahwa ritual-ritual sakral di Gunung Lawu berlangsung hingga akhir kejayaan kerajaan.

Tak hanya relief, tradisi tutur masyarakat setempat juga menyebut bahwa Situs Pelanggatan dulunya dipakai untuk upacara spiritual. Namun pembangunan candi ini berhenti tiba-tiba, konon karena pekerjanya “ketahuan manusia” sehingga kekuatan gaib yang membantu mendirikan candi itu lenyap.

Meski terdengar mistis, cerita itu justru menambah keyakinan warga bahwa situs ini adalah tempat suci. Hingga kini, sebagian masyarakat masih datang berziarah dan melakukan doa di bawah pohon tua yang tumbuh menutupi bangunan utama candi.

Gunung Lawu sendiri penuh dengan mitos yang berhubungan dengan kesakralan. Ada cerita tentang Bulak Peperangan, lembah yang diyakini menjadi arena pertempuran gaib. Ada pula Pasar Setan, lokasi angker di jalur pendakian yang dipercaya sebagai pasar gaib. Semua kisah itu memperkuat pandangan bahwa Gunung Lawu bukan gunung biasa, melainkan pusat spiritual Jawa.

Bahkan, menurut sejarawan Sukarno Kaatmojo, banyak candi di lereng Lawu berorientasi langsung ke puncak. Ini tanda bahwa gunung dianggap sebagai titik tertinggi spiritual, tempat para dewa bersemayam. “Orientasi itu bukan kebetulan, melainkan bukti bahwa Gunung Lawu adalah pusat ritual ruwatan di masa lalu,” ujarnya.

Hingga kini, ritual di Gunung Lawu tetap lestari. Malam 1 Suro, ribuan orang dari berbagai daerah datang untuk tirakat, berdoa, dan melakukan tapa di puncak gunung. Tradisi ini menjadi bukti bahwa kesakralan Lawu melintasi zaman, dari era Majapahit hingga masyarakat Jawa modern.

Situs Pelanggatan hanyalah salah satu bagian dari jaringan spiritual itu. Meski kecil dan tak sepopuler tetangganya, situs ini tetap menyimpan cerita besar. Ia saksi bagaimana ritual ruwatan pernah menjadi pusat kehidupan religius di masa klasik Jawa.

Dengan mempelajari situs-situs seperti Pelanggatan, kita bisa memahami mengapa Gunung Lawu dianggap sebagai gunung sakral dan penuh energi mistis. Di balik cerita gaib dan mitos pendaki, ada tradisi tua yang sudah berakar selama ratusan tahun: ritual ruwatan sebagai upaya manusia untuk mencari keselamatan.

Editor : Anggi Septian A.P.
#ritual ruwatan #gunung lawu #Situs Pelanggatan