BLITAR-Gunung Lawu sejak lama diyakini sebagai salah satu gunung paling sakral di Jawa. Kepercayaan ini tak lepas dari jejak sejarah, mitos, dan tradisi ritual yang berkembang sejak masa Majapahit. Dari Situs Pelanggatan di Karanganyar hingga puncak Hargo Dalem, Gunung Lawu menjadi pusat spiritual yang tak pernah sepi dari peziarah.
Kesakralan Lawu tercermin dari banyaknya situs candi di lerengnya. Candi Sukuh, Candi Ceto, dan Situs Pelanggatan adalah contoh peninggalan arkeologi yang menunjukkan aktivitas ritual besar di masa lalu. Relief-relief yang ada di sana mengisahkan lakon Panji, tokoh penting dalam tradisi ruwatan Jawa. Semua ini menunjukkan bahwa Lawu bukan sekadar gunung, melainkan pusat kegiatan spiritual.
Menurut kitab Tantu Panggelaran, Lawu bahkan disebut sebagai tempat ruwatan para dewa. Dikisahkan, Batara Kala Rudra yang dikutuk menjadi pemangsa manusia akhirnya diruwat melalui ritual sakral di gunung ini. Sejak itulah Lawu dianggap sebagai gunung yang mampu “mematahkan kutukan” dan memberi keselamatan bagi manusia.
Tak heran, hingga kini ritual ruwatan tetap hidup di lereng Lawu. Setiap malam 1 Suro, ribuan orang datang untuk tirakat, semedi, atau sekadar berdoa. Tradisi ini menjadi bukti bahwa kesakralan Lawu melintasi zaman, dari era Majapahit hingga masyarakat Jawa modern.
Sejarawan Sukarno Kaatmojo menyebut bahwa hampir semua candi di lereng Lawu berorientasi ke puncak gunung. Hal ini bukan kebetulan. “Gunung Lawu dipandang sebagai pusat spiritual. Orientasi candi menunjukkan penghormatan kepada puncak sebagai tempat para dewa,” jelasnya.
Situs Pelanggatan menjadi salah satu bagian penting dari tradisi ini. Meski ukurannya kecil dan tertutup pohon tua, situs tersebut diyakini pernah menjadi lokasi ritual. Relief Panji, sengkalan tahun 1454 M, dan kisah pembangunan candi yang berhenti mendadak menambah aura mistisnya. Banyak warga masih datang untuk berdoa di sana, menganggapnya sebagai tempat suci peninggalan Majapahit.
Tak hanya dari sisi arkeologi, kisah-kisah mistis juga memperkuat posisi Lawu sebagai pusat spiritual. Pendaki kerap mendengar cerita tentang Pasar Setan, pasar gaib yang muncul di jalur pendakian. Ada juga mitos Bulak Peperangan, lembah yang konon menjadi arena pertempuran astral. Cerita-cerita ini, meski tak terbukti secara ilmiah, mempertebal kesan bahwa Lawu adalah gunung yang dihuni kekuatan gaib.
Legenda Prabu Brawijaya pun tak bisa dilepaskan dari Lawu. Raja terakhir Majapahit itu diyakini moksa di puncak Hargo Dalem. Keyakinan ini membuat banyak orang melakukan ziarah, menganggap Lawu sebagai gerbang menuju dunia spiritual.
Bagi masyarakat Jawa, Lawu adalah simbol hubungan manusia dengan alam dan leluhur. Ritual-ritual yang digelar di sana bukan sekadar tradisi, tetapi juga bentuk pelestarian nilai-nilai spiritual. Lawu menjadi tempat orang mencari ketenangan, keselamatan, hingga berkah hidup.
Sejarawan lokal menegaskan bahwa kesakralan Lawu merupakan warisan panjang yang terus dijaga. “Gunung Lawu adalah pusat spiritual Jawa. Dari masa Hindu-Buddha, Majapahit, hingga sekarang, gunung ini selalu menjadi tempat orang Jawa menyatu dengan alam dan leluhur,” ujar Sukarno Kaatmojo.
Kini, Gunung Lawu tak hanya menjadi tujuan pendakian, tetapi juga destinasi spiritual. Peziarah, peneliti, hingga wisatawan budaya datang untuk merasakan atmosfer sakralnya. Dari Situs Pelanggatan hingga puncak Hargo Dumilah, Lawu tetap berdiri sebagai saksi bisu perjalanan spiritual masyarakat Jawa sepanjang zaman.
Editor : Anggi Septian A.P.