BLITAR-ragedi bus wisata Paiton yang merenggut belasan nyawa pelajar SMK YAPEPDA 1 Sleman meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban. Selain duka, banyak kisah haru yang mengiringi peristiwa maut di Jalur Tengkorak Probolinggo tersebut. Salah satunya datang dari seorang ibu yang kehilangan putri tercinta.
Sang ibu, yang anaknya duduk di bangku kelas tiga, mengaku masih sering bermimpi didatangi putrinya. Dalam mimpinya, sang anak datang dengan wajah pucat, rambut berantakan, dan pakaian seragam penuh jelaga. “Bu, aku belum sempat pamit,” begitu kata-kata lirih yang ia dengar.
Kisah itu membuat keluarga percaya bahwa arwah anaknya belum benar-benar pergi. Rasa kehilangan yang begitu besar membuat setiap anggota keluarga sulit melupakan tragedi yang menewaskan belasan siswa itu.
Bagi ibu korban, mimpi itu terasa begitu nyata. Seolah putrinya masih hidup, masih ingin pulang, masih ingin merasakan hangatnya pelukan keluarga. “Saya sering menangis tiba-tiba, apalagi kalau ingat kejadian malam itu,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Bukan hanya sekali, mimpi serupa juga muncul di malam-malam berikutnya. Bahkan, sang ibu sempat merasakan kehadiran putrinya di dalam rumah. Pintu kamar yang tiba-tiba terbuka, suara langkah kaki di koridor, hingga aroma khas parfum putrinya membuat bulu kuduk keluarga berdiri.
Tetangga pun mengaku beberapa kali melihat sosok mirip almarhumah berdiri di depan rumah. “Waktu itu saya kira anaknya masih hidup, ternyata cuma bayangan,” ujar seorang tetangga.
Kisah pilu ini membuat warga semakin yakin bahwa tragedi bus wisata Paiton tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga jejak mistis yang sulit dijelaskan. Banyak keluarga korban lain yang juga bercerita tentang mimpi serupa—anak-anak mereka datang seakan ingin berpamitan terakhir.
Di sekolah korban, SMK YAPEPDA 1 Sleman, suasana kelas pun berubah muram. Beberapa guru mengaku mendengar suara kursi digeser di kelas korban. Petugas kebersihan pernah melihat bayangan siswi duduk di bangku belakang dengan tatapan kosong. “Kami percaya, mereka masih ingin hadir di sekolah meski hanya sebentar,” kata salah satu guru.
Cerita-cerita semacam ini membuat tragedi bus wisata Paiton bukan hanya catatan hitam dalam sejarah kecelakaan lalu lintas, melainkan juga kisah kemanusiaan penuh air mata. Keluarga korban bukan hanya kehilangan secara fisik, tapi juga masih merasa terikat secara batin.
Hingga kini, mimpi itu masih sering datang. Sang ibu hanya bisa berdoa agar anaknya tenang di alam sana. “Kalau memang dia datang, mungkin ingin minta didoakan. Saya ikhlas, tapi rasa rindu ini tidak pernah hilang,” ujarnya.
Kisah haru ini menjadi pengingat betapa besar duka yang ditinggalkan tragedi bus wisata Paiton. Luka itu tak hanya ada di lokasi kecelakaan, tetapi juga terus hidup di hati keluarga yang kehilangan.
Editor : Anggi Septian A.P.