BLITAR-Tragedi bus wisata Paiton di Jalur Tengkorak Probolinggo masih menyisakan banyak misteri. Selain belasan nyawa pelajar yang melayang, muncul pula pengakuan mengejutkan dari sopir truk yang terlibat dalam kecelakaan maut tersebut. Ia mengaku tangannya seperti dikunci, sehingga tidak bisa mengendalikan kendaraannya.
Kecelakaan itu terjadi ketika bus rombongan siswa SMK YAPEPDA 1 Sleman melaju dari arah Bali menuju Jawa. Dari depan, sebuah truk kontainer menabrak dengan keras. Sementara dari belakang, truk tronton menghantam bus hingga terjebak dan terbakar. Sopir truk tronton kemudian mengaku mengalami kejadian aneh sesaat sebelum tabrakan.
“Tangan saya tiba-tiba kaku, seperti ada yang menahan. Rem diinjak tapi tidak berfungsi,” ujarnya dalam kesaksian yang beredar. Ia merasa ada sesuatu yang menguasai tubuhnya, membuat kendaraannya melaju tanpa kendali ke arah bus.
Pengakuan itu memunculkan spekulasi baru. Warga menduga ada kekuatan gaib yang ikut campur dalam kecelakaan. Jalur Tengkorak Paiton memang sudah lama dikenal angker karena sering terjadi kecelakaan. Beberapa sopir sebelumnya juga pernah melaporkan pengalaman serupa: setir terkunci sendiri, rem blong mendadak, hingga muncul bayangan hitam di tengah jalan.
Seorang paranormal lokal bahkan meyakini ada energi gelap yang mendiami jalur itu. “Bukan sekadar kelalaian manusia. Ada kutukan lama di jalur ini yang memakan tumbal nyawa,” ucapnya. Menurutnya, tragedi bus Paiton menjadi salah satu contoh nyata bahwa kekuatan tak kasat mata bisa mengganggu manusia.
Namun, pihak kepolisian tetap menekankan faktor teknis sebagai penyebab utama. Rem blong dan kondisi jalan yang berbahaya disebut lebih masuk akal dibanding intervensi gaib. Kendati begitu, kesaksian sopir truk membuat banyak orang semakin percaya bahwa jalur tersebut memang menyimpan misteri.
Warga sekitar menambahkan, setelah kecelakaan, sering terlihat sosok hitam besar berdiri di tanjakan tempat tragedi terjadi. Beberapa kali, sopir yang melintas malam hari merasa pandangannya gelap sesaat sebelum kehilangan kendali. Hal itu memperkuat dugaan adanya “penunggu” di jalur maut itu.
Kini, setiap kali ada pengendara yang melintasi Jalur Tengkorak Paiton, banyak yang sengaja membunyikan klakson sebagai tanda permisi. Tradisi itu dianggap sebagai cara untuk menghormati arwah korban sekaligus menghindari gangguan gaib.
Tragedi bus wisata Paiton bukan hanya duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga membuka kembali perdebatan antara faktor teknis dan mistis. Apakah benar kecelakaan itu murni karena kelalaian manusia, atau ada kekuatan gaib yang ikut bermain? Hingga kini, misteri itu masih menyelimuti jalur angker Probolinggo.
Editor : Anggi Septian A.P.