BLITAR - Gunung Bromo di Jawa Timur tak hanya terkenal dengan pesona sunrise dan lautan pasirnya. Kawasan ini juga menyimpan kisah mistis yang hingga kini masih jadi bahan perbincangan wisatawan dan warga sekitar.
Salah satu cerita yang paling banyak dibicarakan adalah peristiwa hilangnya seorang pengunjung di lautan pasir Bromo. Wisatawan itu dikabarkan menghilang selama tiga hari penuh sebelum akhirnya berhasil ditemukan melalui ritual adat.
Peristiwa itu disampaikan oleh Teguh, Ketua Desa Wisata Wonokitri, yang turut membantu proses pencarian. “Ada pengunjung yang pernah hilang tiga hari di lautan pasir. Semua barangnya ditinggal, mulai motor, helm, jaket, sampai HP. Setelah dukun adat melakukan ritual, dia baru ditemukan di lokasi yang sama,” ungkap Teguh.
Menurut Teguh, yang membuat cerita ini semakin aneh adalah kesaksian korban setelah ditemukan. Ia mengaku tidak merasa hilang, melainkan merasa berada di rumah sendiri. Padahal selama tiga hari, tim pencarian bersama warga sudah menyisir kawasan lautan pasir namun hasilnya nihil.
Cerita ini semakin menguatkan keyakinan masyarakat Tengger bahwa kawasan Bromo bukan sekadar destinasi wisata biasa. Bagi mereka, Bromo adalah wilayah sakral yang dijaga leluhur. Karena itu, ada banyak pantangan yang harus ditaati wisatawan.
Salah satunya adalah larangan menoleh ke belakang saat mendaki tangga menuju kawah. Masyarakat Tengger percaya, menoleh bisa membuat pengunjung tersesat atau “tidak tembus” ke tujuan. Aturan ini diwariskan turun-temurun dan dipercaya sebagai cara menjaga keselamatan di kawasan keramat.
Selain itu, wisatawan juga dilarang melakukan tindakan tak sopan seperti berbicara seenaknya atau buang air menghadap kawah. Bagi masyarakat Tengger, hal itu dianggap menyinggung para leluhur yang dipercaya bersemayam di sekitar kawah.
Hilangnya wisatawan di lautan pasir pun sering dikaitkan dengan adanya pelanggaran terhadap pantangan tersebut. Meski sulit dibuktikan secara ilmiah, cerita semacam ini terus hidup dan menjadi bagian dari tradisi lisan masyarakat setempat.
Gunung Bromo memang tak bisa dilepaskan dari mitos dan legenda. Nama Tengger sendiri berasal dari kisah Joko Seger dan Roro Anteng, pasangan leluhur yang dipercaya sebagai nenek moyang masyarakat Tengger. Dari kisah merekalah lahir berbagai ritual adat, termasuk Yadnya Kasada yang digelar setiap tahun di kawah Bromo.
Upacara Kasada berawal dari legenda pengorbanan anak bungsu Joko Seger dan Roro Anteng, Ki Kusuma. Konon, setelah suara Ki Kusuma terdengar dari kawah, muncul petunjuk agar masyarakat memberikan sesaji setiap bulan Kasada. Hingga kini, ritual tersebut masih berlangsung dan menjadi daya tarik wisata religi di Bromo.
Cerita wisatawan hilang di lautan pasir seolah mengingatkan bahwa Bromo bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan juga pusat spiritual bagi masyarakat Tengger. Banyak pihak percaya bahwa menghormati adat setempat adalah kunci keselamatan ketika berkunjung ke gunung ini.
Teguh pun berpesan kepada wisatawan agar selalu menjaga sikap saat berada di kawasan Bromo. “Jangan anggap remeh. Bromo bukan hanya indah, tapi juga punya kekuatan gaib. Wisatawan harus menghormati adat agar perjalanan aman,” tegasnya.
Hingga kini, kisah hilangnya wisatawan di lautan pasir Bromo masih jadi misteri yang belum terpecahkan. Apakah itu sekadar kebetulan atau benar-benar campur tangan gaib, semuanya kembali pada keyakinan masing-masing.
Namun yang jelas, cerita ini semakin memperkaya daya tarik Gunung Bromo. Tak hanya memikat dengan pemandangan magis, tetapi juga menyimpan legenda dan misteri yang membuat siapa pun penasaran.
Bagi wisatawan, kisah ini menjadi pengingat penting bahwa Bromo adalah tempat yang harus dinikmati dengan rasa hormat, bukan sekadar destinasi foto cantik. Sebab di balik keindahannya, tersimpan nilai budaya, spiritual, dan misteri yang tak lekang oleh waktu.
Editor : Anggi Septian A.P.