BLITAR - Gunung Bromo di Jawa Timur terkenal sebagai destinasi wisata populer dengan panorama sunrise dan lautan pasir yang magis. Namun di balik pesona alamnya, ada sejumlah pantangan unik yang dipercaya masyarakat Tengger dan wajib diperhatikan wisatawan.
Larangan yang paling sering dibicarakan adalah tidak boleh menoleh ke belakang ketika mendaki tangga menuju kawah. Kepercayaan ini diwariskan turun-temurun dan dianggap sebagai cara menjaga keselamatan pengunjung.
Menurut cerita masyarakat setempat, menoleh saat mendaki bisa membuat seseorang tersesat atau tidak sampai ke tujuan. “Orang tua dulu selalu bilang, kalau ke Bromo jangan toleh-toleh. Lurus saja ke tujuan supaya cepat sampai,” ungkap seorang tokoh adat dalam penuturan warga.
Selain larangan menoleh, wisatawan juga diminta menjaga sikap ketika berada di sekitar kawah. Tidak boleh berbicara seenaknya, apalagi mengeluarkan kata-kata yang dianggap meremehkan. Bagi masyarakat Tengger, kawah Bromo adalah tempat suci yang dihormati leluhur.
Ada pula larangan buang air sembarangan, khususnya menghadap ke arah kawah. Aturan ini bukan hanya soal kesopanan, tetapi juga keyakinan bahwa tindakan tidak hormat bisa mendatangkan hal-hal buruk.
Kisah-kisah mistis sering dikaitkan dengan pelanggaran pantangan tersebut. Beberapa wisatawan yang dianggap mengabaikan aturan adat pernah dikabarkan mengalami kesialan, mulai dari tersesat di lautan pasir hingga kehilangan barang.
Masyarakat Tengger percaya, aturan-aturan ini adalah bentuk penghormatan kepada leluhur Joko Seger dan Roro Anteng. Nama “Tengger” sendiri diambil dari gabungan nama mereka. Pasangan ini dipercaya sebagai leluhur masyarakat yang hidup di dataran tinggi Bromo.
Tak hanya itu, berbagai upacara adat seperti Yadnya Kasada juga menjadi bukti bahwa kawasan Bromo bukan sekadar destinasi wisata. Kawah Gunung Bromo diyakini sebagai tempat persembahan sesaji kepada Sang Hyang Widi sebagai bentuk syukur sekaligus penghormatan.
Bagi wisatawan, aturan ini bisa jadi terdengar aneh. Namun bagi masyarakat lokal, pantangan-pantangan tersebut adalah cara menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Dengan mematuhi aturan adat, pengunjung diyakini akan terhindar dari bahaya.
Tokoh adat setempat juga sering mengingatkan wisatawan agar tetap menghormati tradisi. “Jangan sembarangan bicara atau bertingkah di Bromo. Kalau tidak, bisa saja leluhur tidak terima. Kita harus jaga adab,” tegas seorang warga Tengger.
Pantangan unik ini pada akhirnya menambah daya tarik wisata Gunung Bromo. Selain pemandangan alamnya yang memukau, pengalaman spiritual dan budaya juga menjadi bagian dari perjalanan.
Banyak wisatawan yang kemudian penasaran untuk membuktikan sendiri cerita-cerita mistis tersebut.
Meski sulit dibuktikan secara ilmiah, larangan-larangan adat di Bromo terbukti membuat wisatawan lebih berhati-hati. Dengan begitu, kawasan ini tetap terjaga kelestariannya, sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi setiap pengunjung.
Gunung Bromo memang tak hanya tentang sunrise dan lautan pasir. Lebih dari itu, ia adalah ruang budaya yang hidup dengan aturan tak tertulis. Wisatawan yang datang tidak hanya diajak menikmati alam, tapi juga belajar menghormati tradisi.
Editor : Anggi Septian A.P.