Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Tragis Anak ke-25 di Bromo: Jadi Korban Demi Upacara Kasada

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Selasa, 16 September 2025 | 05:30 WIB
Kisah Tragis Anak ke-25 di Bromo: Jadi Korban Demi Upacara Kasada
Kisah Tragis Anak ke-25 di Bromo: Jadi Korban Demi Upacara Kasada

BLITAR - Gunung Bromo di Jawa Timur tak hanya memikat wisatawan dengan sunrise dan lautan pasirnya. Di balik keindahannya, tersimpan legenda kelam tentang pengorbanan seorang anak yang hingga kini masih dikenang lewat ritual adat.

Legenda itu berawal dari kisah pasangan leluhur masyarakat Tengger, Joko Seger dan Roro Anteng. Dari nama merekalah lahir sebutan “Tengger,” gabungan dari “Anteng” dan “Seger.” Pasangan ini dipercaya sebagai pendiri masyarakat Tengger yang hidup di dataran tinggi sekitar Gunung Bromo.

Menurut cerita, Joko Seger dan Roro Anteng lama tak kunjung dikaruniai anak. Mereka pun memanjatkan doa kepada Sang Hyang Widi. Doa itu akhirnya dijawab dengan syarat berat: mereka akan diberi banyak keturunan, namun anak bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.

Pasangan itu menyanggupi syarat tersebut. Setelah bertahun-tahun, mereka akhirnya memiliki 25 anak. Namun ketika tiba waktunya, mereka tidak rela menyerahkan anak terakhir, Ki Kusuma, untuk dikorbankan.

Keputusan itu membuat dewa marah. Gunung Bromo mendadak gelap gulita, disertai petir yang menyambar-nyambar. Dalam kekacauan itu, Ki Kusuma hilang dari pandangan orang tuanya. Dari kawah muncul jilatan api, diikuti suara tangis sang anak.

“Pak, Bu, saya jangan dicabut. Saya sudah diam menghadap kepada Sang Hyang Widi di Kawah Bromo,” begitu suara yang diyakini keluar dari Ki Kusuma.

Sejak saat itu, masyarakat Tengger percaya Ki Kusuma benar-benar dikorbankan dan bersemayam di kawah. Kisah ini menjadi dasar lahirnya upacara Yadnya Kasada yang rutin digelar setiap tahun di Gunung Bromo.

Upacara Kasada dilakukan setiap tanggal 14 bulan Kasada dalam kalender Jawa. Pada momen itu, masyarakat Tengger berkumpul di Pura Luhur Poten di lautan pasir sebelum melakukan prosesi ke kawah Bromo. Mereka melemparkan sesaji berupa hasil bumi, ternak, hingga uang sebagai bentuk persembahan kepada Sang Hyang Widi sekaligus penghormatan pada Ki Kusuma.

Tradisi ini bukan hanya simbol religius, tetapi juga wujud rasa syukur masyarakat Tengger kepada alam. Dengan memberikan hasil panen terbaik, mereka berharap diberi kelimpahan rezeki dan keselamatan.

Bagi wisatawan, Yadnya Kasada menjadi daya tarik budaya yang spektakuler. Ribuan orang rela datang jauh-jauh untuk menyaksikan momen sakral ketika sesaji dilemparkan ke kawah yang mengepul.

Meski terdengar tragis, legenda pengorbanan anak ke-25 ini dipandang masyarakat Tengger sebagai pengingat tentang janji dan konsekuensi. Kisah ini juga menegaskan hubungan erat antara manusia dengan alam dan kekuatan gaib yang dipercaya menguasai Gunung Bromo.

“Kasada adalah warisan leluhur kami. Setiap tahun kami lakukan untuk menghormati janji Joko Seger dan Roro Anteng,” tutur seorang sesepuh Tengger dalam penuturan warga.

Hingga kini, kisah Ki Kusuma masih hidup dalam ingatan masyarakat. Ia bukan hanya bagian dari cerita masa lalu, melainkan juga simbol pengorbanan dan ketulusan yang dijaga melalui ritual turun-temurun.

Legenda ini semakin menambah daya tarik Gunung Bromo sebagai destinasi wisata. Tak hanya menyajikan alam yang indah, Bromo juga menghadirkan pengalaman spiritual dan budaya yang tak ditemukan di tempat lain.

Bagi wisatawan, kisah ini menjadi alasan untuk lebih menghormati kawasan Bromo. Sebab di balik pemandangan magisnya, gunung ini menyimpan cerita leluhur yang penuh makna dan sarat nilai kehidupan.

Editor : Anggi Septian A.P.
#gunung bromo #yadnya kasada #Misteri Suku Tengger