BLITAR - Gunung Bromo bukan hanya terkenal karena keindahan sunrise dan lautan pasirnya. Kawasan ini juga menyimpan banyak situs misterius yang sarat legenda. Salah satunya adalah Watu Kuto, sebuah batu besar yang dianggap keramat oleh masyarakat sekitar.
Watu Kuto terletak di area lautan pasir, tidak jauh dari jalur pendakian menuju kawah. Sekilas, batu ini tampak biasa saja, hanya bongkahan batu besar di tengah hamparan pasir. Namun bagi masyarakat Tengger, Watu Kuto bukanlah batu sembarangan.
Konon, batu tersebut diyakini sebagai tempat penyimpanan pusaka peninggalan kerajaan Majapahit. Beberapa cerita rakyat menyebut, saat kejayaan Majapahit mulai runtuh, para bangsawan dan resi menitipkan pusaka sakti ke dalam Watu Kuto agar tetap aman dan terjaga.
Mitos ini diperkuat dengan cerita-cerita mistis yang berkembang di kalangan warga. Ada yang percaya, pada malam-malam tertentu, Watu Kuto memancarkan cahaya samar seperti nyala api. Cahaya itu diyakini sebagai tanda pusaka yang masih tersimpan di dalamnya.
“Watu Kuto itu bukan sembarang batu. Itu dipercaya tempat pusaka Majapahit ditaruh, supaya tidak jatuh ke tangan orang asing,” ungkap seorang sesepuh Tengger yang ditemui di kawasan Bromo.
Selain sebagai gudang pusaka, Watu Kuto juga dianggap sebagai titik energi spiritual. Banyak orang yang datang untuk semedi, memanjatkan doa, bahkan mencari wangsit di sekitar batu ini. Namun, tidak semua orang berani mendekat. Sebab, masyarakat percaya ada pantangan: tidak boleh sembarangan menyentuh atau berbicara kasar di sekitar batu tersebut.
Mereka yang melanggar pantangan ini diyakini akan terkena celaka, entah tersesat di lautan pasir atau mengalami musibah lain. Hal ini membuat aura Watu Kuto semakin diselimuti misteri.
Menariknya, beberapa peneliti budaya mengaitkan Watu Kuto dengan sejarah nyata Majapahit. Letak Gunung Bromo yang berada di kawasan Tengger disebut masih masuk dalam pengaruh wilayah Majapahit pada masa kejayaannya. Tak heran jika cerita pusaka Majapahit tersimpan di sini menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat.
Bagi wisatawan, Watu Kuto kini menjadi spot unik yang sering dikunjungi saat berwisata ke Bromo. Namun, warga lokal selalu mengingatkan agar pengunjung menjaga sikap, tidak melakukan hal-hal yang dianggap melecehkan kesakralan batu tersebut.
“Kalau mau foto boleh, tapi jangan injak atau duduk di atas batu. Apalagi ucapkan kata-kata yang tidak sopan,” pesan seorang pemandu wisata lokal.
Keberadaan Watu Kuto semakin menambah daya tarik mistis Gunung Bromo. Selain panorama alam yang spektakuler, gunung ini juga menawarkan kisah-kisah legenda yang memperkaya pengalaman wisata.
Bagi sebagian orang, Watu Kuto adalah simbol hubungan masa lalu antara kejayaan Majapahit dengan masyarakat Tengger yang masih bertahan hingga kini.
Meskipun kebenaran pusaka Majapahit tersimpan di Watu Kuto belum pernah dibuktikan secara ilmiah, cerita-cerita mistis yang melingkupinya membuat situs ini tetap hidup dalam imajinasi masyarakat.
Gunung Bromo pun bukan hanya destinasi alam, tetapi juga ruang budaya dan sejarah yang menyimpan banyak rahasia. Dan Watu Kuto, dengan segala misterinya, menjadi bukti bahwa Bromo lebih dari sekadar gunung berapi aktif — ia adalah tempat di mana mitos, legenda, dan sejarah saling bertemu.