Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Petik Edelweiss di Bromo Bisa Kena 10 Tahun Penjara, Ini Alasannya!

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Selasa, 16 September 2025 | 06:30 WIB
Petik Edelweiss di Bromo Bisa Kena 10 Tahun Penjara, Ini Alasannya!
Petik Edelweiss di Bromo Bisa Kena 10 Tahun Penjara, Ini Alasannya!

BLITAR - Gunung Bromo di Jawa Timur dikenal dengan sunrise magis, lautan pasir, hingga upacara adat Yadnya Kasada. Namun ada satu hal lagi yang membuat kawasan ini spesial: keberadaan bunga edelweiss, atau sering disebut bunga abadi.

Edelweiss (Anaphalis javanica) tumbuh subur di kawasan pegunungan dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Bunga ini dianggap istimewa karena mampu mekar dalam waktu lama tanpa layu, bahkan setelah dipetik. Itulah sebabnya edelweiss disebut sebagai simbol cinta abadi.

Di kalangan masyarakat Tengger, edelweiss punya makna spiritual yang kuat. Bunga ini sering digunakan sebagai bagian dari sesaji dalam upacara adat. Bagi pendaki, edelweiss juga dianggap bunga sakral yang hanya bisa dilihat, bukan untuk dipetik.

Namun sayangnya, popularitas edelweiss justru membawa ancaman. Banyak wisatawan tergoda untuk memetiknya sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan. Padahal, tindakan ini bisa berakibat fatal.

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, edelweiss termasuk tanaman yang dilindungi. Artinya, siapa pun yang nekat memetik atau merusak habitatnya bisa dijerat pidana. Ancaman hukumannya tidak main-main: penjara hingga 10 tahun dan denda maksimal Rp 200 juta.

“Kami sering mengingatkan wisatawan agar tidak memetik edelweiss. Selain merusak ekosistem, ada sanksi hukum yang berat,” tegas seorang petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS).

Edelweiss memang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pegunungan. Bunganya menjadi rumah bagi berbagai jenis serangga penyerbuk, sementara akarnya membantu menahan lapisan tanah agar tidak mudah longsor. Jika edelweiss hilang, rantai kehidupan di ekosistem Bromo bisa terganggu.

Meskipun sudah ada aturan tegas, praktik jual-beli edelweiss kering kadang masih ditemui di sekitar kawasan wisata. Biasanya bunga ini dijadikan hiasan atau cendera mata.

Petugas taman nasional pun rutin melakukan patroli untuk mencegah praktik ilegal tersebut. Bagi wisatawan, edelweiss sebaiknya dinikmati dengan cara memotret, bukan memetik.

Foto-foto keindahan edelweiss yang bermekaran di lereng Bromo bisa jadi kenang-kenangan yang jauh lebih berharga daripada membawanya pulang.

Selain itu, ada juga edukasi dari masyarakat lokal yang menekankan makna bunga abadi ini. Mereka percaya edelweiss adalah simbol kesetiaan dan keteguhan hati, sehingga merusaknya sama saja dengan tidak menghargai pesan leluhur.

Gunung Bromo memang kaya akan legenda dan misteri. Dari kisah pengorbanan anak ke-25 Joko Seger dan Roro Anteng, misteri Watu Kuto, hingga larangan-larangan aneh di lautan pasir.

Edelweiss menambah daftar panjang keistimewaan Bromo, bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi juga simbol keabadian yang perlu dijaga bersama.

Jadi, jika berkunjung ke Bromo, ingatlah satu hal: lihat, kagumi, dan foto edelweiss — tapi jangan sekali-kali memetiknya. Sebab keabadian bunga ini justru terjaga ketika tetap tumbuh di habitat aslinya.

Statistik Emil Audero ketika bertamu ke kandang Verona.
Statistik Emil Audero ketika bertamu ke kandang Verona.
Editor : Anggi Septian A.P.
#bunga abadi #gunung bromo #edelweiss #tnbts bromo