Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

⁠Puluhan Ribu Warga di Kabupaten Blitar Terdeteksi Derita Hipertensi, Dinkes Ungkap Faktornya

Fajar Rahmad Ali Wardana • Selasa, 16 September 2025 | 16:37 WIB

 

⁠Puluhan Ribu Warga di Kabupaten  Blitar Terdeteksi Derita Hipertensi, Dinkes Ungkap Faktornya
⁠Puluhan Ribu Warga di Kabupaten Blitar Terdeteksi Derita Hipertensi, Dinkes Ungkap Faktornya

BLITAR – Angka kasus hipertensi atau tekanan darah tinggi di Kabupaten Blitar terbilang cukup mengkhawatirkan. Dalam 8 bulan ini, ada puluhan ribu penderita hipertensi. Banyak dipengaruhi karena faktor keturunan dan pola hidup yang tidak sehat.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mencatat sejak Januari hingga akhir Agustus 2025, ada 54.317 warga yang menderita hipertensi. Dari jumlah itu, 27.926 adalah perempuan dan 26.392 laki-laki.

Subko Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kabupaten Blitar, dr Hyndra Satria menegaskan, kasus hipertensi di daerah ini cukup tinggi dan perlu menjadi perhatian serius. “Dari data yang masuk, perempuan mendominasi jumlah penderita.

Hal ini sebenarnya wajar karena populasi perempuan memang lebih banyak dibanding laki-laki. Tetapi tetap, angkanya cukup besar dan harus diwaspadai,” jelasnya, Senin (15/9/2025).

Hyndra melanjutkan, ada dua faktor utama penyebab hipertensi, yakni faktor genetik serta gaya hidup masyarakat. Sebagian besar penderita memiliki riwayat keturunan, di mana orang tua mereka lebih dahulu menderita penyakit serupa.

Sebab, banyak kasus yang ditemui, ayah atau ibunya hipertensi, lalu anaknya di usia dewasa juga mengalami hal yang sama. Namun, pola hidup juga tidak kalah penting, sebab, kebiasaan yang tidak sehat seperti konsumsi makanan cepat saji, jarang berolahraga, hingga kebiasaan mengonsumsi makanan asin berlebihan menjadi pemicu utama hipertensi.

Apalagi masyarakat seringkali lebih memilih makanan instan. Namun jika tidak diimbangi aktivitas fisik, itu memicu risiko tekanan darah tinggi. “Penderita terbanyak berada di kelompok usia 45 tahun ke atas. Pada usia tersebut, metabolisme tubuh mulai menurun, sementara gaya hidup yang tidak seimbang semakin memperparah kondisi kesehatan,” ungkapnya.

Hyndra menegaskan, hipertensi tidak bisa dianggap sepele. Penyakit ini sering dijuluki silent killer karena bisa menyerang tanpa gejala. Banyak penderita tidak menyadari bahwa mereka sudah mengidap hipertensi hingga muncul komplikasi.

Dia mengimbau masyarakat yang sudah terdiagnosis hipertensi untuk rutin memeriksakan tekanan darah dan mengikuti pengobatan. Meski tidak merasa sakit, namun tetap disarankan minum obat sesuai anjuran dokter.

Selain pengobatan, pencegahan menurut Hyndra jauh lebih penting. Ia menekankan pentingnya pola hidup sehat untuk menekan angka hipertensi. Yakni dengan mengurangi konsumsi makanan asin dan memperbanyak makan buah dan sayur.

Selain itu, rutin berolahraga minimal 30 menit sehari, dan hindari stres berlebihan. Hyndra juga menyoroti, kesadaran masyarakat untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan masih rendah. Banyak warga datang ke layanan kesehatan setelah kondisinya memburuk.

“Padahal hipertensi bisa dikendalikan sejak awal. Jika masyarakat rajin periksa dan sadar risiko, kasus komplikasi bisa ditekan. Jangan tunggu sampai parah baru mencari pertolongan,” pungkasnya. (jar/ynu) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Kabupaten Blitar #hipertensi #tekanan darah tinggi #penderita hipertensi