Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Merantau Bukan Sekadar Cari Uang: Pelajaran Hidup dari Malaysia hingga Jerman

Rahma Nur Anisa • Rabu, 17 September 2025 | 02:00 WIB

 

Setiap kilau lampu menjadi pengingat bahwa perjalanan merantau selalu membawa makna dan tujuan - Indriani
Setiap kilau lampu menjadi pengingat bahwa perjalanan merantau selalu membawa makna dan tujuan - Indriani

BLITAR KAWENTAR - Banyak orang berangkat ke luar negeri untuk mencari penghasilan. Namun, bagi Andriani Koliatin, merantau adalah perjalanan batin, latihan kemandirian, dan kesempatan untuk menemukan arti hidup yang lebih luas.

Sejak 2018, Andriani menempuh jalan panjang sebagai perantau di Malaysia. Awalnya, ia hanya berniat mencari pengalaman sekaligus memperoleh penghasilan yang lebih layak dibandingkan jika bekerja di tanah kelahirannya.

Namun, lima tahun hidup dan bekerja di negeri jiran memberinya pelajaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar angka di slip gaji.

Baca Juga: Misteri Situs Pelanggatan Gunung Lawu, Candi Tersembunyi yang Dikaitkan dengan Prabu Brawijaya

Di Malaysia, ia belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, menghadapi atasan dan rekan kerja dari latar budaya berbeda, hingga akhirnya dipercaya menduduki posisi clerk.

Pencapaian itu menjadi bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan kemampuan beradaptasi akan selalu dihargai, di manapun seseorang berada.

Kini, perjalanan hidupnya berlanjut di Jerman melalui program Ausbildung. Program ini menawarkan kesempatan istimewa: belajar sekaligus bekerja dengan dukungan penuh perusahaan.

Baca Juga: Ternyata Nama Majapahit Bukan dari Keris atau Raja, tapi dari Buah Pahit!

Mulai dari sekolah, tempat kerja, hingga biaya pelatihan tambahan, semuanya sudah disiapkan oleh institusi yang menaunginya.

Bagi Andriani, kesempatan ini bukan hanya soal membangun karier di luar negeri, melainkan juga membuka ruang lebih luas untuk terus belajar tentang ilmu, keterampilan, dan kehidupan.

Meski begitu, ia selalu menekankan bahwa persiapan terpenting bukanlah dokumen atau syarat administratif semata, melainkan mental.

Baca Juga: 20 Ribu Pasukan Mongol Mendarat di Jawa, Malah Jadi Korban Tipu Muslihat Raden Wijaya!

Sertifikat bahasa, motivation letter, hingga visa mungkin menjadi pintu masuk, tetapi kesiapan mental adalah kunci utama agar seseorang bisa bertahan di negeri orang.

Ia berpegang pada prinsip sederhana namun mendalam: Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Prinsip ini menuntun dirinya untuk selalu menghormati aturan yang berlaku di tempat baru, tanpa kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia.

Pengalaman sehari-hari pun menambah keyakinannya bahwa kemandirian bukanlah kelebihan, melainkan kewajiban.

Baca Juga: Ranggalawe Memberontak! Kisah Pertikaian yang Retakkan Awal Kerajaan Majapahit

Di luar negeri, ia harus mengatasi berbagai hambatan bahasa yang belum fasih, budaya yang terasa asing, hingga rasa rindu tanah air yang kadang datang tanpa permisi.

Untuk menghadapi stres, ia tidak mencari cara yang rumit. Ia cukup menikmati cokelat kesukaannya, berjalan santai di sore hari, atau memasak makanan khas Indonesia untuk mengobati rindu.

Dari hal-hal kecil itulah ia menemukan ketenangan dan energi baru untuk melanjutkan perjuangan.

Baca Juga: Diselamatkan Kepala Desa, Raden Wijaya Hadiahi Kudadu Piagam Emas!

Namun, Andriani percaya bahwa merantau tidak boleh berhenti pada kepentingan pribadi. Ilmu, keterampilan, dan perspektif yang ia peroleh di negeri orang harus bisa menjadi bekal untuk tanah air.

Ia menekankan bahwa anak muda Indonesia tidak cukup hanya berkomentar atau mengkritik kondisi bangsa. Lebih penting dari itu adalah menyusun langkah nyata, sekecil apa pun.

Mulai dari membawa pulang pengetahuan tentang sistem pendidikan, teknologi, hingga pengalaman kerja internasional, semua bisa menjadi kontribusi yang berarti.

“Kalau kita hanya sibuk berkata Indonesia gelap, maka kita akan terus berjalan dalam kegelapan,” katanya. “Tetapi kalau kita berani menyalakan lilin kecil, sekecil apa pun, itu sudah menjadi awal perubahan.”

Baca Juga: Di Kanigoro Blitar Ada Tempat Makan Asyik di Tepi Sungai, Ini Bisa Jadi Tempat Rekomendasi Bagi Pecinta Kuliner

Bagi Andriani, merantau adalah sekolah kehidupan yang membentuk keberanian, kedewasaan, sekaligus tanggung jawab.

Ia berharap semakin banyak anak muda Indonesia yang berani melangkah keluar, bukan untuk meninggalkan negeri, melainkan untuk kembali dengan membawa cahaya baru bagi tanah air. (*)

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#Rantau #warga blitar #Ke Luar Negeri #jerman #malaysia #belajar