BLITAR – Sebaran serangan penyakit mulut dan kuku (PMK) di wilayah Kabupaten Blitar terus menunjukkan tren positif dan mereda.
Dari sebanyak 44 ekor sapi yang terserang sejak awal Agustus 2025 lalu, mayoritas sudah sembuh dan tinggal seekor yang dinyatakan masih sakit.
Meski begitu, pantauan lapangan terhadap lima wilayah kecamatan yang terjangkau serangan PMK tetap dilakukan untuk memastikan sapi yang sempat terserang benar-benar pulih.
Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar, sejak serangan PMK terdeteksi kembali awal Agustus lalu di wilayah Kabupaten Blitar, tercatat telah menyasar lima wilayah kecamatan, yakni, Kademangan, Kanigoro, Udanawu, Wates, dan Srengat.
Jika dibandingkan, pekan sebelumnya, serangan PMK tidak mengalami penambahan atau tetap terdeteksi sebanyak 44 kasus tercatat sejak Jumat (8/8) lalu.
“Pemantauan di lapangan menunjukkan perkembangan positif, yang sudah dinyatakan sembuh ada 43 ekor,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Disnakkan Kabupaten Blitar, drh Nanang Miftahudin.
Dari lima wilayah kecamatan serangan PMK, masih menyisakan seekor yang dinyatakan sakit, yakni dari Desa Maron, Kecamatan Srengat. Sedangkan, dari empat wilayah kecamatan lainnya sudah dinyatakan sembuh.
Yakni, Kecamatan Kademangan di Desa Plosorejo ada 19 ekor dan Desa Darungan ada 2 ekor, Kecamatan Kanigoro di Desa Gaprang ada 11 ekor dan Desa Gogodeso 2 ekor, Kecamatan Udanawu di Desa Karanggondang ada 5 ekor, Kecamatan Wates di Desa Ringinrejo ada 2 ekor dan Desa Sumberarum ada 2 ekor.
Untuk memastikan kondisi di lapangan, pemantauan terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan hewan ternak.
Termasuk sapi yang dinyatakan sembuh dari serangan PMK, petugas tetap memantau agar perkembangan positif tersebut terus berlanjut. Sapi-sapi tersebut tetap dipantau hingga hari ke 21 setelah dinyatakan sembuh, meski standarnya 14 hari sebagai bentuk antisipasi hingga sapi benar-benar pulih dari serangan PMK.
Pasalnya, dari beberapa pengalaman, pernah terjadi usai dinyatakan sembuh, namun memasuki hari ke-16 dan ke-17, suhu tubuh sapi kembali mengalami kenaikan drastis. (ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah