Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Belasan Warga Terdampak Renovasi Stasiun Garum di Blitar, Begini Respon PT KAI

Fajar Ali Wardana • Kamis, 18 September 2025 | 20:01 WIB

 

DAYA TARIK: Suasana Stasiun Garum ketika penumpang menunggu KA Commuterline Dhoho yang menuju ke Malang.
DAYA TARIK: Suasana Stasiun Garum ketika penumpang menunggu KA Commuterline Dhoho yang menuju ke Malang.

BLITAR – Wajah Stasiun Garum akan berubah pada tahun depan. Sebab, tempat itu akan dilakukan penataan ulang.

Apalagi saat ini pada tempat pemberhentian kereta tersebut terjadi peningkatan angka naik turun penumpang. Aksesnya yang menghubungkan ke tempat wisata membuat stasiun ini ramai.

Dari data yang dimiliki oleh PT KAI, Stasiun Garum mengalami tren peningkatan naik turun penumpang sejak 2002 hingga sekarang. Ada sekitar 60 ribu penumpang pada 2022 dan tahun berikutnya ada lebih 85 ribu penumpang.

Lalu, ada 94 ribu penumpang untuk 2024. Sementara pada tahun ini hingga Agustus, sudah lebih 60 ribu penumpang yang naik dan turun di Stasiun Garum.

Jumlah penumpang menjadi latar belakang dilakukannya penataan ulang Stasiun Garum. Akses yang sentral menuju objek wisata menjadi salah satu pertimbangan.

Sebab, ada Blitar Park di Desa Pojok; Istana Sakura di Desa Sidodadi dekat dengan Kota Blitar; serta ada akses alternatif ke Candi Penataran, Desa Penataran, Kecamatan Nglegok; hingga jalur pendakian Gunung Kelud via Desa Karangrejo. Hal ini juga menjadi peningkatan layanan kepada penumpang kereta api (KA).

Meskipun begitu, sebanyak 11 warga yang menempati kios di area stasiun dipastikan terdampak langsung. Mereka selama ini menempati lahan milik PT KAI (Persero) dengan status kontrak atau sewa. Pihak PT KAI dan Kecamatan Garum beserta warga yang terdampak sudah melakukan pertemuan untuk membahas rencana penataan ulang, Senin (15/9).

“Warga yang terdampak ini statusnya sebatas hak sewa dan kebanyakan berupa kios. Kalau ada pengembalian kontrak sewa, maka akan diberikan kompensasi. Dana akan ditransfer ke rekening masing-masing sesuai besaran masa sewa yang belum termanfaatkan,” ujar Rokhmad Makin Zainul, Manajer Humas Daop 7 Madiun.

Dia melanjutkan, hingga saat ini PT KAI belum bisa memastikan apakah ada tempat pengganti yang disiapkan untuk pedagang terdampak. Namun yang pasti, hak-hak para penyewa tetap diperhatikan sesuai aturan yang berlaku.

Kartika, warga terdampak penataan ulang Stasiun Garum, hanya bisa menerima kebijakan tersebut. Itu karena memang tanah di atas bangunan yang ditempatinya merupakan milik PT KAI. Namun, dia masih belum mengetahui terkait adanya kompensasi.

“Kalau saya mau tidak setuju itu gak bisa, Mas. Karena tanahnya juga miliknya PT KAI. Kalau sudah diminta pemiliknya, ya saya hanya bisa pasrah,” ungkapnya.

Sementara itu, Kecamatan Garum memastikan mendukung penuh renovasi stasiun. Camat Garum, Frazao Castello menegaskan, proyek ini akan membawa manfaat besar bagi masyarakat.

Bahkan, kecamatan juga hadir dalam sosialisasi yang dilakukan oleh pihak KAI. Dalam sosialisasi yang digelar, hadir sejumlah pejabat terkait mulai dari Kadishub Kabupaten Blitar, Camat Garum, Kapolsek Garum, Danramil Garum, Lurah Tawangsari, serta RT/RW setempat. Selain 11 warga terdampak langsung, masyarakat sekitar stasiun juga dilibatkan untuk mendengarkan penjelasan terkait proyek ini.

“Renovasi akan membuat stasiun lebih tertata. Apalagi selama ini KAI Commuter (KCI) juga sudah mendorong paket wisata kereta api dengan tujuan destinasi wisata di Kabupaten Blitar. Itu jelas berdampak positif terhadap perekonomian warga Garum maupun Blitar secara umum,” ungkapnya. (jar/c1/ynu)

Editor : M. Subchan Abdullah
#kompensasi #Naik turun #Stasiun Garum #blitar #pt kai #Terdampak #renovasi #Renovasi stasiun kereta #korban