BLITAR- Rencana pembangunan menara televisi di Magelang mendadak batal setelah ditemukannya Candi Gunung Sari di puncak bukit. Penemuan ini membuat proyek bernilai ratusan juta rupiah ambyar dan mengubah lokasi tersebut menjadi salah satu situs arkeologi penting di Jawa Tengah.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 1990-an, ketika sebuah stasiun televisi berencana memasang tower pemancar di kawasan Gunung Sari. Namun, saat proses persiapan berlangsung, batu-batu purbakala ditemukan di area tersebut. Temuan ini segera menarik perhatian arkeolog dan membuat proyek dihentikan.
“Dulu ada rencana membangun tower TV di bukit ini, tapi setelah ditemukan candi, menaranya dibatalkan. Kalau tidak, mungkin situs ini sudah hilang,” ungkap salah satu juru pelihara setempat dalam wawancara dengan warga.
Candi Gunung Sari terletak di utara Candi Gunung Wukir, hanya sekitar 30 menit berkendara dari kawasan Borobudur. Situs ini berada di puncak bukit dengan pemandangan Gunung Merapi yang megah. Lokasinya sulit dijangkau karena harus ditempuh dengan mendaki, namun keindahan alam sekitar membuat perjalanan terasa berharga.
Sayangnya, kondisi candi kini hanya berupa reruntuhan. Catatan Belanda sejak 1865 menyebutkan bahwa batu-batu candi dan arca di sini pernah digunakan untuk kebutuhan lain, bahkan sebagian dipindahkan ke rumah pejabat kolonial di Muntilan. Meski begitu, sisa-sisa bangunan masih memperlihatkan kemegahan khas arsitektur Kerajaan Medang.
Bangunan utama Candi Gunung Sari diperkirakan berupa candi induk yang menghadap barat, dengan candi pengiring di sekitarnya. Batu-batunya berukuran besar, dihiasi ragam hias rumit seperti ukiran tirai bunga, lidah api, hingga pelipit berornamen indah. Keunikan lain adalah keberadaan yoni berhias wajah Mekala, sesuatu yang jarang ditemukan di candi lain di Indonesia.
Keunikan inilah yang membuat banyak peneliti menduga Candi Gunung Sari beraliran Siwa. Beberapa laporan juga menyebutkan pernah ditemukan arca Mahakala di lokasi ini, meski keberadaannya kini sulit dilacak. Unsur-unsur tersebut memperkuat hipotesis bahwa candi ini merupakan pusat kosmos spiritual pada masa Kerajaan Medang.
Menurut arkeolog, bahan bangunan Candi Gunung Sari menggunakan kombinasi batu tufa, andesit, dan bata merah. Campuran ini mengindikasikan bahwa candi dibangun pada abad ke-9 Masehi, sezaman dengan Candi Borobudur dan Prambanan. Dengan kata lain, klaim bahwa Candi Gunung Sari lebih tua dari Borobudur tidak sepenuhnya benar, meski tetap menegaskan pentingnya situs ini dalam sejarah Nusantara.
Selain nilai arkeologis, situs ini juga memiliki aura mistis. Dahulu, bukit Gunung Sari dipercaya memiliki sumur keramat dan sering dijadikan tempat bertapa oleh para spiritualis. Tidak sedikit warga sekitar yang percaya bahwa penampakan candi dari dalam tanah adalah jawaban alam atas rencana pembangunan tower yang dianggap tidak selaras dengan kesakralan tempat tersebut.
Kini, Candi Gunung Sari mulai dilirik sebagai destinasi wisata sejarah. Meski hanya tersisa reruntuhan, banyak wisatawan dan peneliti yang datang untuk menyaksikan langsung jejak peradaban kuno di puncak bukit. Perjalanan mendaki melewati hutan bambu dan tanjakan terjal justru menjadi daya tarik tersendiri.
Sejarawan lokal menilai, keberadaan Candi Gunung Sari menjadi bukti bahwa leluhur Medang tidak mudah menyerah dalam membangun peradaban. “Mendirikan candi di puncak bukit bukan hal yang mudah. Tapi mereka tetap melakukannya demi tujuan spiritual,” kata seorang pemerhati sejarah Magelang.
Hingga kini, penelitian terhadap Candi Gunung Sari terus berlangsung. Banyak misteri yang masih menunggu untuk diungkap, mulai dari fungsi asli candi, peranannya dalam struktur kerajaan Medang, hingga kemungkinan keterkaitan dengan pusat kosmos spiritual Nusantara.
Penemuan Candi Gunung Sari yang membuat proyek tower TV batal menjadi pengingat bahwa warisan leluhur tak bisa dianggap remeh. Di balik reruntuhan batu, tersimpan kisah tentang peradaban besar yang pernah berdiri di tanah Jawa.
Tags
Editor : Anggi Septian A.P.