BLITAR-Nama Candi Gunung Sari belakangan mencuat setelah muncul klaim bahwa situs ini lebih tua dibanding Candi Borobudur. Dugaan tersebut memicu perdebatan panjang di kalangan sejarawan maupun pecinta sejarah. Benarkah reruntuhan candi di puncak bukit Magelang ini mendahului monumen Buddha terbesar di dunia?
Candi Gunung Sari berada di kawasan Gunung Sari, Desa Gulon, Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lokasinya cukup terpencil karena terletak di puncak bukit dengan ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Untuk mencapai situs ini, pengunjung harus mendaki melewati jalur setapak dan hutan bambu. Meski melelahkan, pemandangan Gunung Merapi di kejauhan menjadi hadiah tersendiri.
Candi ini pertama kali dilaporkan pada 1865 oleh arkeolog Belanda bernama Verbeek. Catatannya menyebutkan bahwa sebagian batu candi telah dipindahkan ke Muntilan untuk dijadikan hiasan rumah pejabat kolonial. Akibatnya, kondisi candi kini hanya berupa reruntuhan dengan struktur yang tidak utuh.
Meski demikian, sisa-sisa bangunan masih memperlihatkan ciri khas arsitektur Jawa Tengah abad ke-8 hingga ke-9. Beberapa batu memperlihatkan ukiran berupa motif tirai bunga, lidah api, hingga relief berornamen. Yang paling unik adalah keberadaan yoni berhias wajah Mekala, satu-satunya di Indonesia. Yoni biasanya polos, tapi di sini dihiasi wajah raksasa penjaga, memperkuat dugaan bahwa candi beraliran Siwa.
Lantas, bagaimana dengan klaim bahwa Candi Gunung Sari lebih tua dari Borobudur?
Sejarawan dari Balai Arkeologi Yogyakarta menjelaskan bahwa secara bahan bangunan, Candi Gunung Sari menggunakan batu tufa, andesit, dan bata merah. Kombinasi ini umum ditemukan pada candi-candi abad ke-9, masa yang sejaman dengan pembangunan Candi Borobudur (sekitar tahun 780–840 M). Artinya, Candi Gunung Sari kemungkinan besar sebaya, bukan lebih tua secara signifikan.
Selain itu, letaknya yang berdekatan dengan Candi Gunung Wukir memperkuat hipotesis bahwa kawasan ini merupakan pusat peradaban Kerajaan Medang. Gunung Wukir sendiri dikenal sebagai tempat ditemukannya Prasasti Canggal (732 M), yang menandai awal berdirinya Dinasti Sanjaya. Bisa jadi, Candi Gunung Sari dibangun setelah Gunung Wukir, sebagai bagian dari kompleks sakral yang lebih luas.
Meskipun begitu, dugaan bahwa Candi Gunung Sari lebih tua dari Borobudur masih terus diperbincangkan. Hal ini tak lepas dari kurangnya penelitian mendalam akibat kondisi candi yang sudah rusak parah. Beberapa peneliti independen berpendapat bahwa gaya arsitektur sederhana tanpa relief naratif bisa mengindikasikan usia lebih tua. Namun, pendapat ini belum mendapat dukungan data arkeologis yang kuat.
Di luar kontroversi usianya, Candi Gunung Sari tetap menyimpan nilai sejarah luar biasa. Selain menandai jejak spiritual Hindu Siwa di tanah Jawa, situs ini juga dianggap memiliki peran kosmologis penting. Letaknya di puncak bukit diduga berkaitan dengan konsep gunung sebagai pusat kosmos, tempat dewa-dewa bersemayam.
Tak hanya nilai arkeologis, ada pula sisi mistis yang melekat pada situs ini. Warga sekitar percaya bahwa bukit Gunung Sari memiliki aura keramat. Bahkan, muncul cerita bahwa candi ini sengaja “menampakkan diri” ketika ada proyek pembangunan tower TV pada 1990-an. Batu-batu kuno tiba-tiba terlihat, membuat proyek bernilai ratusan juta itu dibatalkan.
Kini, Candi Gunung Sari mulai dilirik sebagai destinasi wisata sejarah alternatif di Magelang. Meski hanya tersisa reruntuhan, pengunjung bisa merasakan sensasi menapaki jejak leluhur di tengah heningnya alam. Dari puncak bukit, hamparan sawah dan siluet Merapi menambah nuansa magis situs kuno ini.
Jadi, apakah Candi Gunung Sari lebih tua dari Borobudur? Hingga kini, jawabannya belum pasti. Namun yang jelas, keduanya merupakan saksi bisu kejayaan Kerajaan Medang yang meninggalkan warisan monumental bagi peradaban dunia.
Editor : Anggi Septian A.P.