Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Letusan Gunung Kelud 1919 Tewaskan 5.160 Jiwa, Jadi Bencana Paling Mematikan di Jawa"

Anggi Septiani • Sabtu, 20 September 2025 | 23:30 WIB
Letusan Gunung Kelud 1919 Tewaskan 5.160 Jiwa, Jadi Bencana Paling Mematikan di Jawa
Letusan Gunung Kelud 1919 Tewaskan 5.160 Jiwa, Jadi Bencana Paling Mematikan di Jawa

BLITAR-Korban jiwa begitu besar karena aliran lahar menjalar hingga 38 kilometer dari kawah. Meski pada 1905 sudah dibangun bendung penahan lahar di Kali Badak, namun derasnya material vulkanik membuat tanggul jebol dan desa-desa di sekitarnya luluh lantak.

Seorang pejabat Belanda bernama Court Willem Womser, yang kala itu bertugas di Tulungagung, menjadi saksi mata langsung bencana ini. Dalam laporannya, ia menggambarkan kedahsyatan Kelud yang meluluhlantakkan sawah, perkebunan, hingga permukiman warga.

“Suara letusan terdengar menggelegar, lalu tiba-tiba lahar panas meluncur deras menghantam rumah-rumah. Banyak orang tak sempat menyelamatkan diri,” tulisnya dalam laporan resmi yang kini menjadi arsip penting sejarah kebencanaan di Jawa.

Dampak letusan ini bukan hanya menelan korban jiwa, tetapi juga melumpuhkan perekonomian masyarakat. Ribuan hektare sawah gagal panen, perkebunan kopi dan tebu musnah, serta akses transportasi lumpuh berhari-hari akibat timbunan material vulkanik.

Tragedi 1919 akhirnya menjadi titik balik dalam penanganan bencana vulkanik di Indonesia. Pemerintah kolonial Belanda kemudian membangun sistem terowongan air untuk mengurangi risiko banjir lahar dari Danau Kawah Kelud. Proyek ini rampung pada 1926 dengan total tujuh terowongan.

Salah satunya adalah Terowongan Ampera yang kini masih menjadi saksi sejarah. Terowongan itu dibuat lebih dalam dari saluran sebelumnya agar air kawah dapat dialirkan keluar sebelum meluap saat terjadi erupsi.

Gunung Kelud sendiri dikenal sebagai gunung api aktif dengan siklus letusan yang relatif singkat. Dalam abad ke-20, tercatat meletus pada 1901, 1919, 1951, 1966, dan 1990. Pola 15 tahunan ini membuat para ahli gunung api selalu menaruh perhatian khusus pada aktivitas Kelud.

Sejarah mencatat, sejak abad ke-15 hingga 2014, letusan Kelud telah merenggut lebih dari 15 ribu korban jiwa. Letusan 1586 bahkan menelan lebih dari 10 ribu korban, menjadikannya salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah Indonesia.

Masyarakat Jawa Timur hingga kini masih menyimpan memori kolektif tentang kedahsyatan Kelud. Bagi warga Blitar dan Kediri, cerita tentang letusan 1919 kerap diwariskan dari generasi ke generasi. Kisah itu menjadi pengingat bahwa gunung megah di perbatasan tiga kabupaten ini bisa berubah jadi malapetaka kapan saja.

Meski sudah ada teknologi pemantauan canggih, banyak warga tetap percaya bahwa Kelud punya siklus alami yang tak bisa dihindari. Setiap kali status aktivitas gunung ini naik, memori tentang korban 1919 kembali muncul dan menciptakan kekhawatiran di tengah masyarakat.

Kini, setelah lebih dari seabad berlalu, tragedi Kelud 1919 masih tercatat sebagai bencana vulkanik paling mematikan di Jawa. Ia menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya mitigasi, kesiapsiagaan, dan kesadaran kolektif dalam menghadapi ancaman alam yang sewaktu-waktu bisa datang.

Editor : Anggi Septian A.P.
#letusan gunung #gunung kelud #Kelud 1919