Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Gunung Kelud Sering Salah Ditulis Jadi Kelut, Ini Fakta Sejarah Nama Aslinya"

Anggi Septiani • Sabtu, 20 September 2025 | 23:00 WIB
Gunung Kelud Sering Salah Ditulis Jadi Kelut, Ini Fakta Sejarah Nama Aslinya
Gunung Kelud Sering Salah Ditulis Jadi Kelut, Ini Fakta Sejarah Nama Aslinya

BLITAR-Gunung Kelud di Jawa Timur menyimpan banyak cerita, bukan hanya soal letusannya yang dahsyat, tapi juga mengenai namanya yang sering salah ditulis. Selama ini, banyak orang menuliskannya sebagai "Kelut", padahal ejaan yang benar adalah Kelud.

Kesalahan penulisan ini ternyata sudah berlangsung lama, bahkan masuk dalam sejumlah arsip kolonial dan catatan sejarah. Dalam aksara Jawa, penulisan huruf "d" dan "t" kerap membingungkan, sehingga nama gunung berapi aktif di perbatasan Kediri, Blitar, dan Malang itu sering salah kaprah.

“Yang benar adalah Kelud dengan huruf D, bukan Kelut. Banyak masyarakat yang masih menuliskan salah karena terbiasa dengan pelafalan,” ungkap Eko Danang, seorang konten kreator yang mendokumentasikan sejarah Gunung Kelud melalui kanal YouTube-nya.

Gunung Kelud sendiri dikenal sebagai salah satu gunung paling aktif di Indonesia. Letusan-letusannya sejak abad ke-15 telah menelan lebih dari 15 ribu korban jiwa. Namun, di balik kedahsyatan itu, ada sisi unik yang justru memicu perdebatan ringan di kalangan masyarakat: bagaimana sebenarnya nama gunung ini ditulis.

Menurut pakar bahasa Jawa, kerancuan tersebut terjadi karena transliterasi aksara Jawa ke huruf Latin. Dalam aksara Jawa, huruf "da" (ꦢ) kadang dibaca mirip dengan "ta" (ꦠ) jika tidak diberi tanda pangkon atau sandhangan tertentu. Hal ini         

menyebabkan sebagian orang lebih akrab dengan sebutan "Kelut".

Kesalahan ini makin meluas karena ikut ditulis dalam dokumen resmi, papan informasi, bahkan buku-buku sekolah pada masa lalu. Akibatnya, nama "Kelut" sempat populer meski sejatinya tidak sesuai dengan penamaan aslinya.

Selain faktor aksara, pengaruh dialek lokal juga ikut berperan. Sebagian masyarakat di sekitar Kediri dan Blitar memang melafalkan huruf "d" di akhir kata menjadi "t". Fenomena ini serupa dengan logat Jawa Timur yang sering mengubah bunyi akhir kata.

Perdebatan soal nama ini sering mencuat kembali setiap kali Gunung Kelud mengalami peningkatan aktivitas. Media nasional kadang masih menuliskan "Kelut", sementara media daerah lebih konsisten memakai "Kelud".

Meski terlihat sepele, kebenaran ejaan ini penting karena menyangkut identitas sejarah dan budaya Jawa Timur. Para pemerhati sejarah menekankan bahwa penulisan yang tepat seharusnya mengikuti sumber otentik, yakni catatan kuno dan aksara Jawa.

Gunung Kelud sendiri berlokasi sekitar 35 kilometer dari pusat Kota Kediri dan 25 kilometer dari pusat Kota Blitar. Selain menjadi objek penelitian vulkanologi, kawasan ini juga dikenal sebagai destinasi wisata, dengan pemandangan kawah dan jejak sejarah letusan yang masih bisa dijumpai.

Kini, setelah edukasi dari berbagai pihak, masyarakat mulai lebih sadar untuk menuliskan "Kelud" dengan benar. Pemerintah daerah juga konsisten menggunakan ejaan resmi dalam papan penunjuk arah, dokumen kebencanaan, hingga promosi pariwisata.

Nama yang sederhana ini menjadi bukti bahwa gunung bukan hanya menyimpan kekuatan alam luar biasa, tetapi juga kisah budaya dan bahasa yang menarik untuk ditelusuri. Gunung Kelud, dengan segala sejarah letusan dan kisah penamaannya, tetap menjadi ikon penting di Jawa Timur

Editor : Anggi Septian A.P.
#gunung #unik #fakta #gunung kelud #kelud