BLITAR - Fenomena langka Gerhana Matahari Parsial akan terjadi pada Minggu, 21 September 2025. Sayangnya, masyarakat Indonesia dipastikan tidak bisa menyaksikan langsung peristiwa astronomi ini karena posisi geografis yang tidak dilalui bayangan bulan.
BMKG menjelaskan, Gerhana Matahari Parsial terjadi ketika bulan hanya menutupi sebagian piringan matahari. Dari permukaan bumi, matahari akan tampak seperti tergigit. Fenomena ini berbeda dengan gerhana total karena cahaya matahari tidak sepenuhnya tertutup.
“Gerhana Matahari Parsial terlihat dari wilayah yang dilalui bayangan penumbra. Artinya, hanya sebagian cahaya matahari yang terhalang, bukan seluruhnya,” jelas Direktur Seismologi, Teknik, dan Geofisika Parsial BMKG, Setyo Aji Prayodi, dalam keterangan yang dikutip dari kanal YouTube.
Menurut BMKG, jalur terbaik untuk menyaksikan gerhana ini berada di wilayah luar Indonesia. Beberapa lokasi yang beruntung meliputi Selandia Baru, Mikronesia, dan sebagian Australia Timur. Sementara itu, negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia tidak berada dalam jalur penumbra, sehingga fenomena ini tidak tampak dari langit Nusantara.
“Sayangnya posisi geografis Indonesia membuat gerhana matahari parsial kali ini tidak dapat diamati dari dalam negeri,” ujar Setyo.
Gerhana Matahari Parsial 21 September 2025 akan berlangsung cukup lama, sekitar 4 jam. Berdasarkan jadwal BMKG, fenomena ini dimulai pada pukul 12.29 WIB atau tengah malam. Puncaknya diperkirakan terjadi pada pukul 02.41 WIB, lalu berakhir pada 04.53 WIB.
Artinya, masyarakat di wilayah Selandia Baru, Mikronesia, dan Australia Timur punya kesempatan langka untuk menyaksikan gerhana selama hampir setengah malam. Fenomena ini akan tampak jelas di langit terbuka dengan cuaca cerah.
Meski tidak terlihat di Indonesia, publik Tanah Air tetap bisa mengikuti perkembangan peristiwa ini lewat siaran langsung dan update dari lembaga astronomi. Biasanya, BMKG maupun komunitas astronomi internasional menyiarkan tayangan streaming untuk memperlihatkan momen langka ini.
Gerhana Matahari selalu menjadi daya tarik karena membawa cerita dari sisi sains maupun mitologi. Dalam ilmu astronomi, gerhana menjadi bukti nyata keteraturan orbit bumi, bulan, dan matahari. Sementara dalam budaya Jawa kuno, gerhana matahari sering dikaitkan dengan mitos Batara Kala yang menelan matahari.
Perpaduan antara sains dan mitos membuat fenomena gerhana semakin menarik untuk diikuti. Tidak heran, setiap kali terjadi, media sosial dipenuhi dengan foto, video, dan cerita warga dari berbagai belahan dunia.
Bagi masyarakat Indonesia, meski tidak bisa melihat langsung, informasi tentang waktu dan lokasi gerhana tetap penting. Sebab, fenomena astronomi seperti ini menjadi sarana edukasi untuk lebih memahami pergerakan benda langit.
BMKG mengingatkan bahwa mengamati gerhana matahari sebaiknya tidak dilakukan dengan mata telanjang. Penggunaan kacamata khusus atau alat pemantau diperlukan agar mata tidak rusak oleh cahaya intens matahari.
Gerhana Matahari Parsial berikutnya yang bisa disaksikan dari Indonesia diperkirakan baru terjadi beberapa tahun lagi. Oleh karena itu, banyak penggemar astronomi di Tanah Air memilih memantau fenomena kali ini lewat tayangan langsung dari luar negeri.
Fenomena Gerhana Matahari Parsial 21 September 2025 menjadi pengingat bahwa alam semesta terus bergerak dengan siklusnya. Meski Indonesia tidak kebagian jalur pengamatan, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Apalagi, selalu ada kisah menarik yang lahir dari setiap gerhana.
Pantau terus update terbaru seputar fenomena astronomi lainnya hanya di Blitarkawentar.jawapos.com agar tidak ketinggalan informasi berikutnya.
Editor : Anggi Septian A.P.