BLITAR - Gerhana matahari dan bulan selalu memicu rasa penasaran masyarakat Jawa sejak zaman dahulu. Bagi orang Jawa kuno, fenomena langit itu bukan sekadar peristiwa alam, melainkan momen mistis yang sarat mitos.
Mitos paling populer adalah keyakinan bahwa Batara Kala, sosok raksasa penjelmaan Kalarahu, menelan matahari atau bulan hingga dunia sejenak menjadi gelap. Ketika itu terjadi, warga Jawa kuno percaya harus melakukan berbagai ritual agar cahaya segera kembali.
Salah satu ritual paling terkenal adalah memukul lesung dan kentongan secara serentak. Bunyi keras yang dihasilkan dipercaya bisa membuat Batara Kala kesakitan dan melepaskan matahari atau bulan dari mulutnya.
“Dulu setiap kali gerhana, semua orang keluar rumah. Mereka memukul lesung dengan alu atau kentongan sambil berteriak ‘gerhana, gerhana’ agar Batara Kala takut,” ujar narasi dalam video YouTube Pegawai Jalanan.
Tradisi memukul lesung saat gerhana dikenal dengan istilah gejogan lesung. Awalnya dilakukan untuk mengusir Batara Kala, namun lama-kelamaan berkembang menjadi seni musik rakyat. Iramanya yang teratur dan meriah membuat tradisi ini kerap dijadikan hiburan pada malam bulan purnama atau musim panen.
Di beberapa desa Jawa, gejogan lesung bahkan masih lestari hingga kini. Bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga simbol kebersamaan warga. Saat suara lesung bertalu-talu, masyarakat berkumpul, bercengkerama, dan memperkuat ikatan sosial.
Selain memukul lesung, masyarakat Jawa kuno juga menggunakan benda apa saja yang bisa menghasilkan suara bising. Piring, kaleng, hingga drum bekas ikut dipukul agar suasana semakin riuh. Tujuannya sama, yakni menakut-nakuti Batara Kala agar segera mengeluarkan matahari atau bulan.
Uniknya, kepercayaan ini tidak berhenti pada ritual lesung saja. Dalam beberapa kisah, ibu hamil saat gerhana diharuskan mengoleskan abu dapur ke pusarnya. Hal itu dipercaya melindungi janin dari bahaya atau keguguran akibat pengaruh gerhana. Telur yang sedang dierami induk ayam juga kerap diolesi abu agar tidak busuk.
Mitos ini mungkin terdengar aneh di telinga generasi muda, namun bagi masyarakat agraris Jawa kuno, tindakan tersebut adalah wujud ikhtiar menjaga kehidupan. Mereka belum mengenal sains modern, tetapi melalui simbol-simbol itu, rasa takut mereka terhadap fenomena alam bisa terkelola.
Lebih jauh, kisah Batara Kala sendiri berasal dari mitologi Hindu yang berkembang di Jawa kuno. Menurut legenda, Batara Kala adalah raksasa yang kepalanya terpenggal oleh panah Dewa Wisnu. Tanpa tubuh, kepalanya melayang di angkasa dengan dendam membara. Setiap kali berjumpa dengan matahari atau bulan, ia berusaha menelannya.
Namun karena tubuhnya sudah tiada, matahari dan bulan akhirnya lolos kembali. Peristiwa inilah yang kemudian dipercaya sebagai asal-usul gerhana. Narasi ini menunjukkan bagaimana orang Jawa kuno berusaha menjelaskan fenomena langit dengan bahasa mitologi yang mereka pahami.
Budayawan Jawa sering menekankan bahwa mitos semacam ini sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai tahayul. “Di balik cerita Batara Kala, ada pesan moral tentang siklus kehidupan, tentang bagaimana manusia harus menerima terang dan gelap dalam hidup,” ungkap salah satu pegiat budaya dalam diskusi lokal di Blitar.
Kini, sains modern telah menjelaskan gerhana sebagai peristiwa astronomis ketika posisi bumi, bulan, dan matahari sejajar. Namun, tradisi memukul lesung, kentongan, dan teriakan “gerhana-gerhana” masih menyimpan nilai kebersamaan. Ia menjadi jembatan antara kearifan lokal dengan fenomena kosmos.
Dengan demikian, mitos gerhana di Jawa bukan sekadar cerita lama. Ia adalah bukti bagaimana masyarakat Jawa kuno merespons alam dengan kreativitas, ritual, dan solidaritas sosial. Dari upaya mengusir Batara Kala, lahirlah tradisi yang mempererat persaudaraan di desa-desa hingga kini.
Editor : Anggi Septian A.P.