BLITAR - Gerhana matahari dan bulan tidak hanya memikat langit, tetapi juga melahirkan beragam mitos di masyarakat Jawa kuno. Fenomena ini dianggap membawa dampak langsung pada kehidupan manusia dan hewan, terutama pada ibu hamil dan telur yang sedang dierami.
Dalam tradisi Jawa, saat terjadi gerhana, ibu hamil diwajibkan mengoleskan abu dapur di pusarnya. Hal ini dipercaya sebagai penangkal agar kandungan tetap aman dan tidak mengalami keguguran.
Selain itu, telur ayam, angsa, atau burung peliharaan yang sedang dierami juga harus diolesi abu dapur. Tujuannya agar telur tidak busuk dan tetap bisa menetas meski terkena pengaruh buruk dari gerhana.
“Waktu gerhana, ibu hamil biasanya buru-buru mengambil abu dapur lalu mengoleskannya ke perut bagian pusar. Itu dipercaya supaya bayi di kandungan tidak celaka,” ungkap narasi dalam video YouTube Pegawai Jalanan.
Kepercayaan ini muncul karena masyarakat agraris Jawa kuno sangat dekat dengan siklus alam. Gerhana dianggap sebagai gangguan kosmik yang bisa memengaruhi tumbuhan, hewan, bahkan janin dalam rahim. Abu dapur, yang diambil dari sisa pembakaran kayu, dilihat sebagai simbol keseimbangan panas dan pelindung dari kekuatan gaib.
Bagi masyarakat desa, abu bukan hanya benda biasa. Ia menjadi penanda kehangatan dapur, sumber kehidupan, dan keseimbangan rumah tangga. Karena itu, menempelkan abu ke pusar ibu hamil atau ke telur dianggap sebagai cara mengalihkan dampak negatif gerhana.
Selain ritual abu dapur, masyarakat Jawa kuno juga melakukan tindakan lain saat gerhana. Mereka memukul lesung, kentongan, bahkan piring atau drum bekas untuk menimbulkan suara gaduh. Suara itu dipercaya bisa mengusir Batara Kala, raksasa yang dianggap menelan matahari atau bulan.
Namun, khusus untuk ibu hamil, kepercayaan soal abu menjadi sangat penting. Perempuan yang sedang mengandung dipandang sebagai sosok rentan. Mereka harus dilindungi dari pengaruh energi gelap yang muncul saat gerhana. Dengan abu dapur, masyarakat merasa lebih tenang dan yakin janin akan lahir selamat.
Hal serupa juga berlaku untuk telur ayam yang dierami induknya. Hewan ternak adalah sumber pangan utama, sehingga keberlangsungan hidup ayam atau burung peliharaan tidak boleh terganggu. Olesan abu dipandang sebagai bentuk ikhtiar agar telur tetap sehat.
Budayawan Jawa menilai kepercayaan ini adalah bagian dari simbolisme kosmik. “Abu dalam mitologi Jawa adalah lambang keseimbangan. Ia lahir dari api, tapi juga dingin. Maka digunakan untuk melindungi kehidupan yang baru tumbuh dari gangguan alam,” ujar seorang pegiat budaya di Blitar.
Jika dilihat dari kacamata sains modern, tentu abu dapur tidak memiliki pengaruh langsung pada janin atau telur. Namun, ritual tersebut mencerminkan bagaimana leluhur Jawa menafsirkan fenomena alam dengan cara mereka sendiri. Rasa takut terhadap gerhana diolah menjadi tindakan simbolis yang menenangkan.
Di pedesaan Jawa, beberapa orang tua masih menceritakan kepercayaan ini kepada anak cucunya. Walau tidak lagi dijalankan secara ketat, mitos ini tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang menarik untuk dipelajari. Ia menunjukkan hubungan erat antara manusia, alam, dan keyakinan spiritual.
Gerhana kini dipahami sebagai fenomena astronomis akibat posisi bumi, bulan, dan matahari yang sejajar. Namun, di balik perhitungan sains itu, mitos tentang abu dapur masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa. Ia menjadi cerita turun-temurun yang diwariskan sebagai identitas budaya.
Dengan demikian, tradisi mengoles abu pada ibu hamil dan telur ayam saat gerhana bukan sekadar tahayul. Ia adalah cermin kearifan lokal yang berakar pada rasa ingin melindungi kehidupan. Sebuah simbol sederhana yang lahir dari keterbatasan ilmu, tetapi kaya makna spiritual dan sosial.
Editor : Anggi Septian A.P.