Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kalarahu Abadi Tanpa Tubuh, Menelan Matahari dan Bulan Setiap Gerhana!

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Selasa, 23 September 2025 | 03:00 WIB

 

Kalarahu Abadi Tanpa Tubuh, Menelan Matahari dan Bulan Setiap Gerhana!
Kalarahu Abadi Tanpa Tubuh, Menelan Matahari dan Bulan Setiap Gerhana!

BLITAR - Gerhana matahari dan bulan bagi masyarakat Jawa kuno tidak hanya peristiwa astronomis. Fenomena langit ini dikaitkan erat dengan mitologi tentang dendam abadi Kalarahu, sosok raksasa yang hanya menyisakan kepala namun tetap hidup.

Kisah ini berakar dari legenda pencarian Tirta Amarta, air kehidupan yang dipercaya bisa membuat siapa saja hidup abadi. Para dewa dan raksasa bekerja sama mengaduk lautan susu dengan seekor naga raksasa sebagai penggergajinya. Dari proses itu lahirlah Tirta Amarta yang kemudian dijaga oleh Dewa Surya (matahari) dan Dewi Candra (bulan).

Namun, seorang raksasa bernama Kalarahu berhasil mencuri dan menelan Tirta Amarta. Sayangnya, aksinya segera diketahui. Dewa Wisnu lalu melepaskan panahnya, memenggal tubuh Kalarahu sebelum cairan kehidupan itu sepenuhnya tertelan.

Tubuh Kalarahu jatuh ke bumi dan berubah menjadi lesung, sedangkan kepalanya yang sudah sempat meminum Tirta Amarta tetap hidup, melayang-layang di angkasa dengan dendam yang membara.

“Sejak itu, setiap kali melihat matahari dan bulan, Kalarahu berusaha menelannya sebagai bentuk balas dendam. Dari situlah masyarakat Jawa menafsirkan gerhana,” ungkap narasi dalam video YouTube Pegawai Jalanan.

Namun karena tidak lagi memiliki tubuh, matahari dan bulan yang ditelan Kalarahu selalu bisa keluar kembali lewat lehernya. Peristiwa berulang inilah yang dipercaya menjadi asal-usul gerhana matahari dan bulan.

Mitologi Kalarahu menyimpan makna filosofis yang dalam. Kepala tanpa tubuh menggambarkan kekuatan dendam yang tidak pernah padam, meski tidak lagi utuh. Gerhana dipandang sebagai simbol kegelapan sementara, yang pasti akan sirna ketika cahaya kembali.

Bagi masyarakat Jawa tradisional, cerita ini bukan sekadar dongeng. Ia menjadi cara menjelaskan fenomena alam yang sulit dipahami pada masa lalu. Lewat kisah Kalarahu, mereka memahami bahwa gelapnya dunia saat gerhana tidak berlangsung selamanya. Ada harapan bahwa cahaya akan kembali bersinar.

Selain itu, mitos ini juga memunculkan beragam ritual. Masyarakat desa memukul lesung, kentongan, bahkan kaleng bekas untuk menimbulkan suara gaduh. Bunyi riuh itu dipercaya bisa menyakiti Kalarahu dan memaksa dia segera melepaskan matahari atau bulan dari mulutnya.

Ibu hamil dan telur ayam yang dierami pun dilindungi dengan cara diolesi abu dapur, sebagai simbol menjaga kehidupan baru dari pengaruh kegelapan. Petani kelapa memukul batang pohon agar buahnya berubah menjadi kopyor. Semua itu berakar pada keyakinan tentang kekuatan gaib yang dilepaskan saat gerhana.

Budayawan Jawa melihat kisah Kalarahu sebagai bagian dari warisan narasi Nusantara yang kaya. “Mitologi gerhana bukan hanya cerita mistis, tapi juga cara orang Jawa menyampaikan pesan moral. Bahwa dalam hidup selalu ada terang setelah gelap, dan dendam tak pernah membawa kemenangan,” ujar seorang pegiat budaya di Blitar.

Sains modern memang menjelaskan gerhana dengan logika astronomi. Gerhana matahari terjadi ketika bulan melintas menutupi matahari, sedangkan gerhana bulan terjadi saat bumi menghalangi cahaya matahari menuju bulan. Namun, di balik fakta ilmiah itu, mitos Kalarahu tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya Jawa.

Kisah tentang kepala abadi yang terus menelan matahari dan bulan menjadi pengingat bahwa warisan leluhur tidak pernah lekang. Ia menyimpan nilai spiritual, moral, dan juga seni yang meneguhkan hubungan manusia dengan kosmos.

Hingga kini, cerita Kalarahu masih sering diceritakan dalam diskusi budaya, pertunjukan wayang, hingga pelajaran tentang kearifan lokal di sekolah. Dari generasi ke generasi, mitos ini terus diwariskan sebagai bagian dari kekayaan tradisi Jawa.

Dengan demikian, dendam abadi Kalarahu bukan sekadar dongeng kuno. Ia adalah simbol perlawanan, siklus alam, dan keyakinan bahwa gelap hanya sementara. Setelah ditelan, cahaya pasti akan kembali. 

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#mitologi jawa #Kalarahu #gerhana